Kebisingan kota tidak ada lagi menjadi penghalang bagi warga Batam untuk menikmati keindahan alam. Di Tanjung Piayu, Kota Batam, terdapat kawasan hutan lindung mangrove yang menjadi tempat istirahat dari polusi kota.
Di antara sungai yang lebar dan berlumpur ini, pengunjung dapat menikmati kebebasan untuk menenangkan roh. Terlepas dari bunyi kendaraan yang tidak ada lagi, suara burung-burung terbang dan ikan-ikan kecil di dalam air menjadi pengalaman baru bagi wisatawan. Suasana tenang yang dibawa angin utara membuat hati menjadi lebih damai.
Hendrik Hermawan, pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI), mengatakan bahwa kawasan ini merupakan gugus terakhir hutan mangrove di Batam. Luasnya mencapai 220 hektare. "Jadi, 33 persen hutan mangrove di Batam itu terdapat disini," kata Hendrik. Hingga sekarang, total luas hutan mangrove di Batam mencapai 660 hektar.
Hendrik juga menjelaskan bahwa di kawasan ini, terdapat berbagai jenis hewan yang hidup bersama-sama. Mulai dari burung bangau, raja udang, elang, sampai berang-berang dan pelikan. Dengan keanekaragaman hayati ini, hutan mangrove Tanjung Piayu dapat bertahan sebagai eksosistem yang hidup beraturan.
Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat menanam mangrove sendiri. Hendrik menjelaskan bahwa pihaknya menyediakan paket menanam mangrove dengan harga Rp 225.000 untuk satu orang wisatawan dan Rp 200.000 untuk satu batang pohon. Selain itu, pengunjung juga dapat melakukan jalan-jalan menggunakan perahu keliling hutan mangrove.
Kepada para wisatawan, Hendrik berharap mereka dapat memahami pentingnya menjaga kawasan ini. "Karena ini adalah gugus terakhir yang tersisa," kata Hendrik.
Di antara sungai yang lebar dan berlumpur ini, pengunjung dapat menikmati kebebasan untuk menenangkan roh. Terlepas dari bunyi kendaraan yang tidak ada lagi, suara burung-burung terbang dan ikan-ikan kecil di dalam air menjadi pengalaman baru bagi wisatawan. Suasana tenang yang dibawa angin utara membuat hati menjadi lebih damai.
Hendrik Hermawan, pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI), mengatakan bahwa kawasan ini merupakan gugus terakhir hutan mangrove di Batam. Luasnya mencapai 220 hektare. "Jadi, 33 persen hutan mangrove di Batam itu terdapat disini," kata Hendrik. Hingga sekarang, total luas hutan mangrove di Batam mencapai 660 hektar.
Hendrik juga menjelaskan bahwa di kawasan ini, terdapat berbagai jenis hewan yang hidup bersama-sama. Mulai dari burung bangau, raja udang, elang, sampai berang-berang dan pelikan. Dengan keanekaragaman hayati ini, hutan mangrove Tanjung Piayu dapat bertahan sebagai eksosistem yang hidup beraturan.
Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat menanam mangrove sendiri. Hendrik menjelaskan bahwa pihaknya menyediakan paket menanam mangrove dengan harga Rp 225.000 untuk satu orang wisatawan dan Rp 200.000 untuk satu batang pohon. Selain itu, pengunjung juga dapat melakukan jalan-jalan menggunakan perahu keliling hutan mangrove.
Kepada para wisatawan, Hendrik berharap mereka dapat memahami pentingnya menjaga kawasan ini. "Karena ini adalah gugus terakhir yang tersisa," kata Hendrik.