Pembangunan kesetaraan gender Prabowo-Gibran, apa itu? Pembangunan kesetaraan gender ini merupakan agenda utama yang harus dicapai oleh pemerintahan Indonesia dalam menghadapi perbedaan ekonomi dan kesejahteraan antar jenis kelamin. Menurut laporan dari Kementerian Pekerjaan Umum (KPU), terdapat kesenjangan gender yang masih berlanjut di masyarakat, baik dalam aspek pendidikan, pekerjaan, kesehatan, maupun ekonomi.
Berdasarkan data BPS, perempuan memiliki usia harapan hidup lebih panjang daripada laki-laki. Namun, kesenjangan ini tidak diwujudkan dalam capaian sosial dan ekonomi. Perempuan hanya menempati dua komposit pembentuk Indeks Pembangunan Gender (IPG) tetapi belum mampu dikonversi menjadi keunggulan sosial dan ekonomi.
Kesenjangan yang terjadi pada dimensi pendidikan riil, pengeluaran per kapita laki-laki mencapai Rp17,35 juta per tahun sedangkan perempuan hanya Rp9,92 juta per tahun. Angka ini tidak hanya mencerminkan perbedaan penghasilan yang dibelanjakan tetapi juga memperlihatkan ketimpangan akses perempuan terhadap pekerjaan, sumber daya ekonomi, dan posisi strategis dalam pasar kerja.
Ketimpangan akses yang dialami oleh perempuan dibuktikan dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan yang masih rendah. Ketika 84,66 persen laki-laki aktif dalam pasar kerja, TPAK perempuan hanya mencapai 56,42 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa beban kerja domestik, keterbatasan akses lapangan kerja ramah perempuan serta norma gender tradisional masih menjadi penghambat utama partisipasi ekonomi perempuan.
Juga, persoalan kekerasan berbasis gender menjadi cermin paling nyata dari ketimpangan relasi kuasa. Data menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya.
Berdasarkan data BPS, perempuan memiliki usia harapan hidup lebih panjang daripada laki-laki. Namun, kesenjangan ini tidak diwujudkan dalam capaian sosial dan ekonomi. Perempuan hanya menempati dua komposit pembentuk Indeks Pembangunan Gender (IPG) tetapi belum mampu dikonversi menjadi keunggulan sosial dan ekonomi.
Kesenjangan yang terjadi pada dimensi pendidikan riil, pengeluaran per kapita laki-laki mencapai Rp17,35 juta per tahun sedangkan perempuan hanya Rp9,92 juta per tahun. Angka ini tidak hanya mencerminkan perbedaan penghasilan yang dibelanjakan tetapi juga memperlihatkan ketimpangan akses perempuan terhadap pekerjaan, sumber daya ekonomi, dan posisi strategis dalam pasar kerja.
Ketimpangan akses yang dialami oleh perempuan dibuktikan dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan yang masih rendah. Ketika 84,66 persen laki-laki aktif dalam pasar kerja, TPAK perempuan hanya mencapai 56,42 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa beban kerja domestik, keterbatasan akses lapangan kerja ramah perempuan serta norma gender tradisional masih menjadi penghambat utama partisipasi ekonomi perempuan.
Juga, persoalan kekerasan berbasis gender menjadi cermin paling nyata dari ketimpangan relasi kuasa. Data menunjukkan bahwa 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya.