Pemerintah yang dipimpin Prabowo-Gibran masih belum bisa menyingkirkan kesenjangan gender di Indonesia, meski telah memasuki tahun kedua pemerintahan. Pemegang takhta ini harus mengakui bahwa pembangunan berada pada fase yang sangat menentukan. Di sini, isu kesetaraan gender tidak lagi menjadi agenda tambahan melainkan menjadi agenda utama strategis dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia dan perlindungan kelompok rentan.
Keberhasilan pembangunan diukur tidak hanya melalui capaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan negara dalam menjamin keadilan sosial serta membuka akses dan kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara. Namun, perlu diketahui bahwa pemerintah Prabowo-Gibran masih belum mampu mempercepat Pembangunan Kesetaraan Gender (PKG).
Data BPS yang dipublikasikan pada April 2025 menunjukkan bahwa perempuan unggul dalam dua komposit pembentuk Indeks Pembangunan Gender (IPG), yaitu aspek kesehatan dan pendidikan. Perempuan memiliki usia harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, serta harapan lamasekolah yang sedikit lebih panjang. Hal ini mencerminkan potensi generasi perempuan yang lebih besar di masa depan.
Keberhasilan pembangunan diukur tidak hanya melalui capaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kemampuan negara dalam menjamin keadilan sosial serta membuka akses dan kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara. Namun, perlu diketahui bahwa pemerintah Prabowo-Gibran masih belum mampu mempercepat Pembangunan Kesetaraan Gender (PKG).
Data BPS yang dipublikasikan pada April 2025 menunjukkan bahwa perempuan unggul dalam dua komposit pembentuk Indeks Pembangunan Gender (IPG), yaitu aspek kesehatan dan pendidikan. Perempuan memiliki usia harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, serta harapan lamasekolah yang sedikit lebih panjang. Hal ini mencerminkan potensi generasi perempuan yang lebih besar di masa depan.