Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tingkat nasional di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026. Menurut Menteri Agama Nasaruddin Umar, salat yang menjadi inti dari peristiwa tersebut tidak hanya memiliki nilai kesalehan spiritual, tetapi juga memiliki nilai kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kelestarian alam.
Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu dalam peristiwa Miraj. Namun, Menag menekankan bahwa salat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga fondasi pembentukan kepribadian Muslim yang beriman, berdisiplin, dan berakhlak mulia.
"Salat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi yang berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan," kata Menag. "Salat yang dilakukan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan ekologis."
Menurut Menteri Agama, prinsip thaharah sebagai syarat sahnya salat mengajarkan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan, tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar. Gerakan dan tata tertib salat mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, serta pengendalian diri dalam membangun dan memanfaatkan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.
Konsep tauhid, menurutnya, mengimplikasikan kesatuan ciptaan. Alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang merefleksikan kebesaran Allah SWT. "Merusak alam berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah, sementara menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian dari manifestasi keimanan dan ketaatan kepada-Nya," ujarnya.
Dalam konteks kebangsaan, pesan Isra Miraj relevan untuk memperkuat persatuan dan toleransi antar-umat beragama. Toleransi bukan berarti menghapus perbedaan melainkan menerima perbedaan tanpa menciptakan jarak sosial. "Toleransi itu biarlah yang berbeda tetap berbeda dan yang sama tetap sama. Yang penting perbedaan tidak membuat kita berjarak," katanya.
Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu dalam peristiwa Miraj. Namun, Menag menekankan bahwa salat bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga fondasi pembentukan kepribadian Muslim yang beriman, berdisiplin, dan berakhlak mulia.
"Salat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi yang berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan," kata Menag. "Salat yang dilakukan secara benar mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial dan ekologis."
Menurut Menteri Agama, prinsip thaharah sebagai syarat sahnya salat mengajarkan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan, tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar. Gerakan dan tata tertib salat mengandung pesan kedisiplinan, moderasi, serta pengendalian diri dalam membangun dan memanfaatkan sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan.
Konsep tauhid, menurutnya, mengimplikasikan kesatuan ciptaan. Alam semesta merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah yang merefleksikan kebesaran Allah SWT. "Merusak alam berarti mengabaikan tanda-tanda kekuasaan Allah, sementara menjaga dan merawat lingkungan merupakan bagian dari manifestasi keimanan dan ketaatan kepada-Nya," ujarnya.
Dalam konteks kebangsaan, pesan Isra Miraj relevan untuk memperkuat persatuan dan toleransi antar-umat beragama. Toleransi bukan berarti menghapus perbedaan melainkan menerima perbedaan tanpa menciptakan jarak sosial. "Toleransi itu biarlah yang berbeda tetap berbeda dan yang sama tetap sama. Yang penting perbedaan tidak membuat kita berjarak," katanya.