Megawati Anggap Pilkada Tak Langsung Mirip dengan Senam 'Poco-poco'
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri kembali menyatakan pendiriannya mengenai Pilkada tak langsung yang sedang dibahas di DPR RI dan pemerintah. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Syaeful Mujab, seorang kader muda PDIP, dalam konferensi pers Rakernas PDIP ke-53 di Ancol, Jakarta Utara, Minggu lalu.
Menurut Syaeful, Megawati menyimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi yang mirip dengan senam "poco-poco", yaitu maju-mundur. Ia percaya bahwa bagi partai politik, termasuk PDI Perjuangan, demokrasi harus maju ke depan dan tidak bersikap "maju-mundur" seperti senam.
Syaeful juga menyatakan bahwa persoalan politik uang dalam pemilu tidak akan terpecahkan hanya dengan mengambil hak suara masyarakat. Dia percaya bahwa PDI Perjuangan tidak akan menyerah pada masalah ini dan akan melanjutkan perjuangannya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.
Syaeful juga menyampaikan pesan Megawati, yaitu agar demokrasi di Indonesia memiliki progres yang jelas dan maju ke depan. Ia berharap bahwa sikap resminya akan disampaikan di penutupan Rakernas besok nanti.
Dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara PDIP, Seno Bagaskoro, menyampaikan pendapatnya tentang Pilkada tak langsung. Dia percaya bahwa sistem pemilihan kepala daerah secara langsung memberikan hak rakyat untuk mengevaluasi sekaligus proses kepemimpinan selama lima tahun mendatang.
Seno juga menjelaskan bahwa tanpa ada pemilihan langsung, seorang pemimpin tidak bisa mengenali rakyatnya dan mencari solusi atas setiap masalah yang dialami. Oleh karenanya, dia percaya bahwa Pilkada langsung adalah sarana rakyat dan pemimpin untuk saling berkenalan serta saling mengetahui visi misi serta program kerja masing-masing.
Seno berkesimpulan bahwa Pilkada langsung adalah logika yang susah dipahami, karena dalam demokrasi kita, bagaimana seorang pemimpin itu bisa bonding dengan rakyatnya, bisa merasakan keresahan rakyatnya, dan bisa mencari solusi terbaik untuk masalah rakyatnya kalau rakyat tidak kenal siapa dia?
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri kembali menyatakan pendiriannya mengenai Pilkada tak langsung yang sedang dibahas di DPR RI dan pemerintah. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Syaeful Mujab, seorang kader muda PDIP, dalam konferensi pers Rakernas PDIP ke-53 di Ancol, Jakarta Utara, Minggu lalu.
Menurut Syaeful, Megawati menyimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi yang mirip dengan senam "poco-poco", yaitu maju-mundur. Ia percaya bahwa bagi partai politik, termasuk PDI Perjuangan, demokrasi harus maju ke depan dan tidak bersikap "maju-mundur" seperti senam.
Syaeful juga menyatakan bahwa persoalan politik uang dalam pemilu tidak akan terpecahkan hanya dengan mengambil hak suara masyarakat. Dia percaya bahwa PDI Perjuangan tidak akan menyerah pada masalah ini dan akan melanjutkan perjuangannya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.
Syaeful juga menyampaikan pesan Megawati, yaitu agar demokrasi di Indonesia memiliki progres yang jelas dan maju ke depan. Ia berharap bahwa sikap resminya akan disampaikan di penutupan Rakernas besok nanti.
Dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara PDIP, Seno Bagaskoro, menyampaikan pendapatnya tentang Pilkada tak langsung. Dia percaya bahwa sistem pemilihan kepala daerah secara langsung memberikan hak rakyat untuk mengevaluasi sekaligus proses kepemimpinan selama lima tahun mendatang.
Seno juga menjelaskan bahwa tanpa ada pemilihan langsung, seorang pemimpin tidak bisa mengenali rakyatnya dan mencari solusi atas setiap masalah yang dialami. Oleh karenanya, dia percaya bahwa Pilkada langsung adalah sarana rakyat dan pemimpin untuk saling berkenalan serta saling mengetahui visi misi serta program kerja masing-masing.
Seno berkesimpulan bahwa Pilkada langsung adalah logika yang susah dipahami, karena dalam demokrasi kita, bagaimana seorang pemimpin itu bisa bonding dengan rakyatnya, bisa merasakan keresahan rakyatnya, dan bisa mencari solusi terbaik untuk masalah rakyatnya kalau rakyat tidak kenal siapa dia?