Media asing melihat anjloknya bursa saham RI yang menggerus nilai kapitalisasi pasar hingga Rp1.336 triliun dalam dua hari perdagangan. Aksi jual besar-besaran dipicu peringatan dari penyedia indeks MSCI terkait isu kepemilikan saham dan transparansi perdagangan di pasar modal Indonesia.
Tekanan terhadap pasar keuangan RI juga dikaitkan dengan meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap arah kebijakan fiskal Presiden Prabowo Subianto, termasuk pelebaran defisit anggaran dan peran negara yang lebih besar di sektor keuangan. Dinamika kebijakan tersebut turut menekan rupiah mendekati rekor terendah sepanjang masa.
Otoritas Indonesia merespons dengan sejumlah langkah untuk meredakan kepanikan pasar, seperti meningkatkan ketentuan free float emiten menjadi 15% sebagai bagian dari upaya menjawab kekhawatiran MSCI. Langkah ini membantu IHSG memangkas penurunan dan ditutup melemah sekitar 1%, setelah sehari sebelumnya anjlok 7,4%.
Meski demikian, tekanan masih membayangi setelah Goldman Sachs dan UBS menurunkan rekomendasi saham Indonesia. "Penurunan dua hari ini lebih mencerminkan penyesuaian risiko akses pasar, bukan reaksi terhadap fundamental," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.
Tahun lalu, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia senilai Rp13,96 triliun atau sekitar US$834 juta, terburuk sejak 2020.
Tekanan terhadap pasar keuangan RI juga dikaitkan dengan meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap arah kebijakan fiskal Presiden Prabowo Subianto, termasuk pelebaran defisit anggaran dan peran negara yang lebih besar di sektor keuangan. Dinamika kebijakan tersebut turut menekan rupiah mendekati rekor terendah sepanjang masa.
Otoritas Indonesia merespons dengan sejumlah langkah untuk meredakan kepanikan pasar, seperti meningkatkan ketentuan free float emiten menjadi 15% sebagai bagian dari upaya menjawab kekhawatiran MSCI. Langkah ini membantu IHSG memangkas penurunan dan ditutup melemah sekitar 1%, setelah sehari sebelumnya anjlok 7,4%.
Meski demikian, tekanan masih membayangi setelah Goldman Sachs dan UBS menurunkan rekomendasi saham Indonesia. "Penurunan dua hari ini lebih mencerminkan penyesuaian risiko akses pasar, bukan reaksi terhadap fundamental," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.
Tahun lalu, investor asing telah mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia senilai Rp13,96 triliun atau sekitar US$834 juta, terburuk sejak 2020.