Lukisan Gua Tertua di Dunia Ditemukan di Leang Metanduno, Muna, Sulawesi Tenggara.
Penemuan lukisan cadas berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, menandai pencapaian babak baru dalam sejarah seni dan migrasi manusia modern. Lukisan cadas yang berupa cap tangan negatif tersebut kini disebut sebagai yang tertua di dunia, melampaui temuan serupa di Spanyol.
Penelitian ini dilakukan oleh tim kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University Australia, dan Southern Cross University Australia. Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, mengatakan bahwa riset ini dimulai dari proses publikasi temuan di Leang Timpuseng pada 2014.
"Lukisan cadas tertua ini dibuat dengan menempatkan tangan di dinding atau langit-langit gua, lalu pigmen oker yang mungkin dicampur zat organik seperti cairan lemak binatang atau cairan lainnya disemprotkan lewat mulut, hingga menutupi cap tangan dan menjadi stensil di media itu," ungkap Adhi.
Lukisan berbetuk cap tangan negatif tersebut dibuat sekitar 67.800 tahun yang lalu, dan ini merupakan usia minimum seni cadas Pulau Muna yang lebih tua dari seni cadas dari Maros-Pangkep yang ditemukan sebelumnya. Selain itu, lukisan cadas ini juga 1.100 tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.
"Temuan ini menunjukkan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini," ujar Prof. Maxime Aubert.
Penelitian ini juga membuktikan bahwa manusia modern atau Homo sapiens telah memiliki kemampuan berimajinasi dan membuat gambar cadas sejak mereka melintasi paparan Sunda menuju paparan Sahul lewat kawasan Wallacea.
Penemuan lukisan cadas berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, menandai pencapaian babak baru dalam sejarah seni dan migrasi manusia modern. Lukisan cadas yang berupa cap tangan negatif tersebut kini disebut sebagai yang tertua di dunia, melampaui temuan serupa di Spanyol.
Penelitian ini dilakukan oleh tim kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University Australia, dan Southern Cross University Australia. Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, mengatakan bahwa riset ini dimulai dari proses publikasi temuan di Leang Timpuseng pada 2014.
"Lukisan cadas tertua ini dibuat dengan menempatkan tangan di dinding atau langit-langit gua, lalu pigmen oker yang mungkin dicampur zat organik seperti cairan lemak binatang atau cairan lainnya disemprotkan lewat mulut, hingga menutupi cap tangan dan menjadi stensil di media itu," ungkap Adhi.
Lukisan berbetuk cap tangan negatif tersebut dibuat sekitar 67.800 tahun yang lalu, dan ini merupakan usia minimum seni cadas Pulau Muna yang lebih tua dari seni cadas dari Maros-Pangkep yang ditemukan sebelumnya. Selain itu, lukisan cadas ini juga 1.100 tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.
"Temuan ini menunjukkan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini," ujar Prof. Maxime Aubert.
Penelitian ini juga membuktikan bahwa manusia modern atau Homo sapiens telah memiliki kemampuan berimajinasi dan membuat gambar cadas sejak mereka melintasi paparan Sunda menuju paparan Sahul lewat kawasan Wallacea.