Iran dan Amerika Serikat memiliki sejarah hubungan yang kompleks dan dinamis. Mulai dari tahun 1953, ketika kudeta didalangi AS menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh, hingga saat ini, kedua negara tersebut telah mengalami berbagai peristiwa besar yang mempengaruhi hubungan mereka.
Pada tahun 1957, Iran dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian kerja sama terkait penggunaan sipil atom, yang kemudian menjadi dasar bagi masalah nuklir saat ini. Namun, pada tahun 1979, Revolusi Iran mengubah dinamika hubungan antara kedua negara tersebut.
Setelah Revolusi Iran, Amerika Serikat menanggung penindasan terhadap demonstran dan meningkatkan sanksi terhadap Iran. Pada tahun 1980-1988, konflik panas berkepanjangan antara Iran dan Irak memicu ketegangan hubungan antara AS dengan Iran.
Pada tahun 1992-1996, Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap Iran, termasuk embargo minyak dan perdagangan. Pada tahun 2002, Presiden AS George W. Bush menyebut Iran sebagai bagian dari "poros kejahatan", yang kemudian diikuti oleh serangkaian sanksi terhadap negara tersebut.
Pada tahun 2012, rial Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Pada tahun 2013-2015, Amerika Serikat dan Iran menandatigakan kesepakatan nuklir yang membatasi aktivitas nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi.
Namun, pada tahun 2018, Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir secara sepihak dan menjatuhkan sanksi untuk Iran. Pada tahun 2020, AS membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, kepala Pasukan Quds elit dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di Baghdad.
Saat ini, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi sorotan dunia. Pada tahun 2025, surat untuk Teheran dikirim oleh Presiden Trump ke Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian menolak tawaran tersebut. Meskipun demikian, AS masih mempertimbangkan serangan terhadap Iran.
Kemarahan di Iran juga mencetuskan demonstrasi besar pada akhir Desember 2025. Ketegangan ini meluas ke seluruh negara dan menyebabkan penindasan oleh rezim Iran dan pasukan keamanan, serta pemadaman internet dan korban tewas ribuan orang.
Perjalanan panjang hubungan Iran dan Amerika Serikat diwarnai dengan berbagai persoalan yang melingkupi kondisi kedua negara tersebut. Keadaan naik turun hubungan keduanya akan terus berlanjur hingga kini dan nanti.
Pada tahun 1957, Iran dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian kerja sama terkait penggunaan sipil atom, yang kemudian menjadi dasar bagi masalah nuklir saat ini. Namun, pada tahun 1979, Revolusi Iran mengubah dinamika hubungan antara kedua negara tersebut.
Setelah Revolusi Iran, Amerika Serikat menanggung penindasan terhadap demonstran dan meningkatkan sanksi terhadap Iran. Pada tahun 1980-1988, konflik panas berkepanjangan antara Iran dan Irak memicu ketegangan hubungan antara AS dengan Iran.
Pada tahun 1992-1996, Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap Iran, termasuk embargo minyak dan perdagangan. Pada tahun 2002, Presiden AS George W. Bush menyebut Iran sebagai bagian dari "poros kejahatan", yang kemudian diikuti oleh serangkaian sanksi terhadap negara tersebut.
Pada tahun 2012, rial Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Pada tahun 2013-2015, Amerika Serikat dan Iran menandatigakan kesepakatan nuklir yang membatasi aktivitas nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi.
Namun, pada tahun 2018, Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir secara sepihak dan menjatuhkan sanksi untuk Iran. Pada tahun 2020, AS membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani, kepala Pasukan Quds elit dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran di Baghdad.
Saat ini, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi sorotan dunia. Pada tahun 2025, surat untuk Teheran dikirim oleh Presiden Trump ke Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian menolak tawaran tersebut. Meskipun demikian, AS masih mempertimbangkan serangan terhadap Iran.
Kemarahan di Iran juga mencetuskan demonstrasi besar pada akhir Desember 2025. Ketegangan ini meluas ke seluruh negara dan menyebabkan penindasan oleh rezim Iran dan pasukan keamanan, serta pemadaman internet dan korban tewas ribuan orang.
Perjalanan panjang hubungan Iran dan Amerika Serikat diwarnai dengan berbagai persoalan yang melingkupi kondisi kedua negara tersebut. Keadaan naik turun hubungan keduanya akan terus berlanjur hingga kini dan nanti.