Tiga belas pengawal Koramil Melonguane melanggar hak-hak masyarakat dengan melakukan pengeroyokan korban SMK yang menegur mereka. Pengeroyokan itu terjadi di pelabuhan Umum Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Sulut), kemarin malam, sekitar pukul 23.30 Wita.
Menurut tokoh adat Talaud, Godfried Timpua, pengeroyokan dipicu saat korban yang sedang memancing di pelabuhan menegur anggota Koramil Melonguane yang diduga mabuk. Teguran dari korban membuat para pelaku kesal hingga melakukan pengeroyokan.
Godfried berbicara, "Korban bermaksud menegur karena sudah mengganggu kenyamanan para pemancing dan masyarakat yang sedang santai di pelabuhan. Tak terima ditegur anggota TNI AL bersama teman-temannya langsung mengeroyok korban sampai babak belur."
Pengeroyokan itu kemudian berujung dalam demo protes warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat. Demonstrasi berlangsung ricuh saat massa memaksa masuk ke dalam Mako Lanal Melonguane. Massa dan prajurit TNI AL terlibat saling dorong hingga sejumlah fasilitas dirusak.
Godfried melanjutkan, "Itu kegiatan spontan warga sampai ricuh. Yang rusak itu bangunan di Mako Lanal, yaitu teras place dan pagar karena massa dihalangi untuk masuk sehingga massa merusak pagar."
Lima anggota TNI AL yang terlibat dalam pengeroyokan itu sekarang ditahan Detasemen Polisi Militer (Denpom) dan menjalani pemeriksaan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden itu. Peristiwa ini menjadi evaluasi serius dalam pembinaan personel untuk meningkatkan profesionalisme, serta sikap humanis prajurit dalam melaksanakan tugas di tengah masyarakat.
TNI AL tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan oleh prajurit. Aparat gabungan TNI-Polri telah bertindak cepat mengamankan situasi di lokasi kejadian.
Menurut tokoh adat Talaud, Godfried Timpua, pengeroyokan dipicu saat korban yang sedang memancing di pelabuhan menegur anggota Koramil Melonguane yang diduga mabuk. Teguran dari korban membuat para pelaku kesal hingga melakukan pengeroyokan.
Godfried berbicara, "Korban bermaksud menegur karena sudah mengganggu kenyamanan para pemancing dan masyarakat yang sedang santai di pelabuhan. Tak terima ditegur anggota TNI AL bersama teman-temannya langsung mengeroyok korban sampai babak belur."
Pengeroyokan itu kemudian berujung dalam demo protes warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat. Demonstrasi berlangsung ricuh saat massa memaksa masuk ke dalam Mako Lanal Melonguane. Massa dan prajurit TNI AL terlibat saling dorong hingga sejumlah fasilitas dirusak.
Godfried melanjutkan, "Itu kegiatan spontan warga sampai ricuh. Yang rusak itu bangunan di Mako Lanal, yaitu teras place dan pagar karena massa dihalangi untuk masuk sehingga massa merusak pagar."
Lima anggota TNI AL yang terlibat dalam pengeroyokan itu sekarang ditahan Detasemen Polisi Militer (Denpom) dan menjalani pemeriksaan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden itu. Peristiwa ini menjadi evaluasi serius dalam pembinaan personel untuk meningkatkan profesionalisme, serta sikap humanis prajurit dalam melaksanakan tugas di tengah masyarakat.
TNI AL tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan oleh prajurit. Aparat gabungan TNI-Polri telah bertindak cepat mengamankan situasi di lokasi kejadian.