Penurunan Jumlah Wisatawan Asing ke Thailand pada 2025
Kunjungan wisatawan asing ke Thailand mengalami penurunan drastis pada tahun 2025, mencapai 32,9 juta orang atau turun 7,2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peristiwa-peristiwa keamanan yang terjadi pada tahun-tahun terakhir menjadi penyebab utama penurunan ini.
Pada awal tahun, kunjungan wisatawan Cina memang dipengaruhi oleh penculikan aktor Cina yang kemudian diselamatkan dari pusat penipuan di Myanmar. Kemudian gempa bumi terbesar di Myanmar dalam satu abad dan konflik perbatasan berdarah dengan Kamboja juga menjadi faktor yang mempengaruhi. Selain itu, banjir parah di selatan Thailand dan krisis politik yang membawa pemerintahan baru juga tidak membuat wisatawan merasa nyaman untuk berkunjung.
Meski penurunan ini mencapai 7,2 persen, tetapi jumlah wisatawan asing masih banyak. Wisatawan Malaysia menjadi yang terbesar dengan 4,52 juta orang, diikuti oleh Cina sebanyak 4,47 juta wisatawan dan India dengan 2,48 juta orang.
Penurunan jumlah wisatawan ini juga membuat pendapatan pariwisata Thailand menurun 4,7 persen menjadi 1,5 triliun baht atau 802 triliun. Sementara, total pendapatan pariwisata yang berasal dari pengunjung asing dan wisatawan domestik tercatat sebesar 2,7 triliun baht atau 1.444 triliun, turun 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski penurunan ini terjadi pada 2025, Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand menargetkan jumlah wisatawan asing pada 2026 sebanyak 36,7 juta orang. Pada tahun tersebut, kedatangan internasional diperkirakan akan mencapai 70 persen dari total pendapatan pariwisata.
Thailand telah membuat beberapa strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Pemerintah memberikan 200.000 tiket penerbangan domestik gratis kepada wisatawan mancanegara pada musim sepi, diharapkan menghasilkan pendapatan sebesar 8,8 miliar baht atau Rp 4,7 triliun dari anggaran sebesar 700 juta baht atau Rp 374 miliar.
Kunjungan wisatawan asing ke Thailand mengalami penurunan drastis pada tahun 2025, mencapai 32,9 juta orang atau turun 7,2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peristiwa-peristiwa keamanan yang terjadi pada tahun-tahun terakhir menjadi penyebab utama penurunan ini.
Pada awal tahun, kunjungan wisatawan Cina memang dipengaruhi oleh penculikan aktor Cina yang kemudian diselamatkan dari pusat penipuan di Myanmar. Kemudian gempa bumi terbesar di Myanmar dalam satu abad dan konflik perbatasan berdarah dengan Kamboja juga menjadi faktor yang mempengaruhi. Selain itu, banjir parah di selatan Thailand dan krisis politik yang membawa pemerintahan baru juga tidak membuat wisatawan merasa nyaman untuk berkunjung.
Meski penurunan ini mencapai 7,2 persen, tetapi jumlah wisatawan asing masih banyak. Wisatawan Malaysia menjadi yang terbesar dengan 4,52 juta orang, diikuti oleh Cina sebanyak 4,47 juta wisatawan dan India dengan 2,48 juta orang.
Penurunan jumlah wisatawan ini juga membuat pendapatan pariwisata Thailand menurun 4,7 persen menjadi 1,5 triliun baht atau 802 triliun. Sementara, total pendapatan pariwisata yang berasal dari pengunjung asing dan wisatawan domestik tercatat sebesar 2,7 triliun baht atau 1.444 triliun, turun 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski penurunan ini terjadi pada 2025, Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand menargetkan jumlah wisatawan asing pada 2026 sebanyak 36,7 juta orang. Pada tahun tersebut, kedatangan internasional diperkirakan akan mencapai 70 persen dari total pendapatan pariwisata.
Thailand telah membuat beberapa strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Pemerintah memberikan 200.000 tiket penerbangan domestik gratis kepada wisatawan mancanegara pada musim sepi, diharapkan menghasilkan pendapatan sebesar 8,8 miliar baht atau Rp 4,7 triliun dari anggaran sebesar 700 juta baht atau Rp 374 miliar.