Kuba Tolak Negosiasi Meski AS Stop Pasokan Minyak dari Venezuela

Kuba Menolak Berhadapan dengan Ancaman AS, Trump Mengancam Menyetop Pasokan Minyak Venezuela

Pada Minggu lalu, Presiden Kuba Miguel Díaz Canel mengekspresikan sikap negatifnya terhadap Amerika Serikat (AS) setelah presiden Donald Trump mengancam menyetop pasokan minyak dari Venezuela ke negara tersebut. Dalam unggahan akun X pribadinya, Miguel Díaz-Canel menyatakan bahwa Kuba tidak akan tunduk pada siapapun, termasuk AS.

"Tak satupun boleh mendikte apa yang akan kami lakukan," tulis Miguel Díaz-Canel. "Kuba adalah negara yang bebas, mandiri, dan berdaulat. Kami tidak menyerang, tetapi telah diserang AS selama 66 tahun."

Menurut Díaz-Canel, Kuba tidak ingin AS campur tangan mengurusi urusan dalam negeri. Ia juga menyebut negaranya tak gentar dengan ancaman Trump.

"Kami bersiap menjaga tanah air hingga titik darah penghabisan," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez juga mengungkapkan pesan serupa atas ancaman Trump. Ia menyatakan bahwa AS "telah bertindak seperti hegemon kriminal kelewat batas yang mengancam perdamaian dan keamanan, tidak hanya di Kuba dan tanah airnya, tetapi juga seluruh dunia."

Kuba telah menjadi salah satu negara yang ditakuti AS sejak era perang dingin. Namun, tensi kedua negara kembali memanas setelah Trump menjalankan operasi penculikan Nicolas Maduro dari Venezuela pada 3 Januari lalu.

Warga Kuba saat ini dilanda ketidakpastian akibat saling sindir antara pemimpin kedua negara tersebut. Beberapa di antara mereka frustrasi dengan keadaan yang diperburuk oleh ancaman Trump, sedang lainnya mengaku tak gentar dengan ancaman AS.

"Tak ada listrik di sini, tak ada gas di sini, tak ada LPG," kata warga Kuba Maria Elena Sabina. "Jadi, ya, perubahan perlu terjadi. Perubahan sangat diperlukan. Tapi harus cepat, semoga besok."

Sementara itu, arus politik dalam negeri AS juga kini terbelah. Tak sedikit pihak yang menginginkan Trump untuk fokus pada kebijakan internal AS, alih-alih gencar mengintervensi negara lain.

" Ini [Trump] adalah presiden yang mengatakan akan fokus pada kebijakan America First. Sekarang kita melihatnya sudah mengebom tujuh negara ... jadi di antara basis pendukung Trump, kini terjadi keretakan karena ini bukan apa yang ia janjikan ketika berkampanye," kata koresponden Al Jazeera di Washington DC, Patty Culhane.
 
Gue pikir gue sudah ngaluhin banyak hal sekarng, tapi siapa tahu si Trump itu benar-benar mau menyerang Kuba dan Venezuela. Mungkin ini semua hanya strategi baginya untuk memenuhi janjinya akan "America First". Tapi apakah itu benar-benar baik buat dunia? Gue ragu-ragu banget, tapi apa yang gue bisa lho? Jadi, gue nggak sabar-sabar mau nyangka-nyangka siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku justru pikir AS harus fokus di dalam negerinya sendiri, bukan terus terang melinting ke negara-negara lain.
 
Bisa dibilang kalau Trump lagi ngomong arogan, nyolakin berhadapan dengan Kuba... tapi gue rasa kalau ancaman AS bukan masalah kecil, tapi masalah yang harus diatasi oleh seluruh dunia 🌎. Jika AS ingin menyetop pasokan minyak Venezuela, itu bukan masalah keamanan, tapi masalah kekuasaan! #TrumpMenyesatkan Dunia

Kuba pasti ngomong benar-benar, sih... tidak bisa dipungut duit dari orang lain tanpa izin 🤑. Tapi gue rasa kalau Kuba harus berhati-hati, jangan terlalu keras menyerang AS. Mungkin ada solusi yang lebih baik, yakin? #Kubamenolak

Saya setuju dengan Maria Elena Sabina, sih... kita butuh perubahan! 🔄 Tapi gue rasa kalau perubahan itu harus dilakukan secara damai, tanpa kekerasan. Kita harus bisa hidup berdampingan dengan negara lain, tidak saling sindir 🤝. #DamaiAtasi
 
Kasih aja, tapi gue rasa Kuba nggak perlu diintimidasi oleh AS. Trump punya waktunya, tapi kini gue rasa dia sudah kehabisan waktunya. Kaya aja dia diingatkan untuk fokus pada masalah internalnya sendiri, jangan lagi ngejebak negara lain. Sementara itu, Kuba udah terlalu lama menanggung ancaman AS, sekarang saatnya mereka harus menanggulangi sendiri masalahnya. Aku rasa Trump juga perlu belajar tentang diplomasi yang benar, bukan sekedar mengancam-ancam.
 
Gue rasa kalau ancaman Trump ke Venezuela itu gak masuk akal deh 🤯. Kuba punya hak untuk menentu sendiri urusan dalam negerinya, gimana kalau AS gak bisa diterima? 😒. Trump juga gak bisa ngedeclai ajarannya sih, karena kayaknya dia buat keributan dan ancaman yang gak perlu ada 🤖. Gue rasa Amerika Serikat perlu ambil langkah depan yang lebih bijak dan jujur dalam berinteraksi dengan negara-negara lain.
 
Trump ponoknyak juga dengan Kuba, tapi sebenarnya sudah lama kok AS nggak sabar dengannya 🤷‍♂️. Udah 66 tahun aja, Amerika Serikat udah serang Kuba kayak gila. Tapi siapa tahu apa yang di katakan Díaz Canel itu benar-benar benar, kalo Kuba udah sedia untung juga 🤑. Sementara itu, AS udah mulai masuk akal dengar Trump, nih, dia udah fokus pada kebijakan internal aja kayaknya 🙄.
 
Aku pikir gak bisa dipercaya kalau Trump benar2 menyetop pasokan minyak dari Venezuela ke Kuba! Gua rasa dia udah lupa bahwa Kuba bukan negara kecil aja, tapi negara yang berdaulat dan mandiri. Aku punya temen dari Havana, dia bilang siapa aja yang menyerang Kuba siapa aja yang harus menerima ancaman. Trump pasti gak mau dipercaya oleh banyak orang di dunia. Jadi, aku rasa Trump udah kalah dalam diplomasi ini!
 
Trump ngerasai siapa pun, tapi Kuba gak mau dipaksa 💁‍♂️. Mereka bilang Kuba bebas dan mandiri, jadi apa yang bisa AS lakukan? 🤔 Trump banyaan ancaman AS, tapi Kuba gak takut 😎. Saya pikir itu karena mereka sudah terlalu sabar dengan ancaman Trump lama ini. Tapi, sementara itu, warga Kuba kaget banget dengan ancaman yang datang dari Trump. Mereka bilang tidak ada listrik di sini, jadi apa yang bisa mereka lakukan? 🤷‍♂️ Saya rasa itu karena mereka sudah lelah dengan ancaman AS dan Trump sama-sama. 💔
 
kembali
Top