Dalam kejadian yang menyedihkan, 23 anggota TNI Angkatan Laut (TNI AL) terkena dampak longsor di Desa Soreang, Kabupaten Bandung Barat. Kesederhanaan ini dikonfirmasi oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, yang menyatakan bahwa 23 prajurit Marinir tertimbun bawah material longsor.
Menurut Ali, proses evakuasi mengalami kesulitan karena kondisi cuaca buruk dan akses menuju lokasi kejadian terbatas. "Alat berat belum bisa masuk ke titik longsor karena kondisi cuaca dan jalan yang terbatas," ujar Ali.
Penggunaan teknologi, drone, serta anjing pelacak akan diterapkan dalam pencarian terus. Kesederhanaan ini terjadi saat 23 prajurit Marinir tengah mengikuti kegiatan pelatihan di wilayah Cisarua, sebagai bagian dari persiapan penugasan pengamanan di perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini.
Laksamana Ali menyimpulkan bahwa longsor terjadi karena intensitas hujan yang tinggi di wilayah tersebut. Hujan deras mengguyur lokasi selama dua malam sebelum kejadian longsor.
Menurut Ali, proses evakuasi mengalami kesulitan karena kondisi cuaca buruk dan akses menuju lokasi kejadian terbatas. "Alat berat belum bisa masuk ke titik longsor karena kondisi cuaca dan jalan yang terbatas," ujar Ali.
Penggunaan teknologi, drone, serta anjing pelacak akan diterapkan dalam pencarian terus. Kesederhanaan ini terjadi saat 23 prajurit Marinir tengah mengikuti kegiatan pelatihan di wilayah Cisarua, sebagai bagian dari persiapan penugasan pengamanan di perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini.
Laksamana Ali menyimpulkan bahwa longsor terjadi karena intensitas hujan yang tinggi di wilayah tersebut. Hujan deras mengguyur lokasi selama dua malam sebelum kejadian longsor.