Sabtu lalu, bencana longsor dan banjir bandang melanda Desa Soreang, Kabupaten Bandung Barat. Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, sebanyak 23 prajurit Marinir ikut tertimbun longsor di tempat tersebut.
Ali menyatakan bahwa saat ini sudah diketemukan hanya 4 prajurit dalam kondisi meninggal dunia. Namun, ada 19 prajurit lain yang tertimbun longsor dan belum ditemukan. KSAL memastikan bahwa pencarian terus dilakukan menggunakan teknologi drone thermal dan anjing pelacak untuk menemukan mereka.
Penggelaran latihan pratugas oleh prajurit Marinir saat musibah terjadi menjadi penyebab utama kejadian longsor ini. Mereka sedang menghadapi kondisi hujan lebat selama hampir 2 malam, yang kemudian menimpa satu desa dan menyebabkan longsor.
Kini, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) telah melakukan evakuasi korban meninggal dunia dari lokasi kejadian. Dengan penambahan ini, total 29 body pack yang telah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak berwenang.
Ali menyatakan bahwa saat ini sudah diketemukan hanya 4 prajurit dalam kondisi meninggal dunia. Namun, ada 19 prajurit lain yang tertimbun longsor dan belum ditemukan. KSAL memastikan bahwa pencarian terus dilakukan menggunakan teknologi drone thermal dan anjing pelacak untuk menemukan mereka.
Penggelaran latihan pratugas oleh prajurit Marinir saat musibah terjadi menjadi penyebab utama kejadian longsor ini. Mereka sedang menghadapi kondisi hujan lebat selama hampir 2 malam, yang kemudian menimpa satu desa dan menyebabkan longsor.
Kini, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) telah melakukan evakuasi korban meninggal dunia dari lokasi kejadian. Dengan penambahan ini, total 29 body pack yang telah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak berwenang.