Pesan dari Menhub: Kronologi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Sulsel
Saat ini kami masih dalam proses penyelidikan dan evaluasi pelaksanaan operasi pencarian serta pertolongan yang dipimpin oleh Basarnas.
Dalam keseluruhan, pesawat ATR 42-500 itu melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Sebelum ke bandara, ada instruksi daripada Air Traffic Control (ATC) untuk melakukan pendaratan ke landasan pacu 21. Namun, setelah arahan koreksi diberikan, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau "lost contact".
Setelah itu, Airnav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten. Mereka membentuk <em>crisis center</em> di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 06.15 WITA, tim SAR gabungan mulai mengadakan operasi pencarian terpadu dengan menggunakan drone milik TNI AU untuk menyisir wilayah Gunung Bulusaraung yang berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Saat itu, tim SAR menemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya. Setelah temuan tersebut, Basarnas bersama TNI, Polri, KNKT, Kemenhub, dan Airnav menggelar konferensi pers guna menyampaikan perkembangan pencarian kepada publik.
Kemudian, pada pukul 11.59 WITA, satu jenazah berjenis kelamin laki-laki ditemukan oleh tim SAR gabungan. Penemuan tersebut langsung dilanjutkan dengan proses evakuasi dari lokasi kejadian.
Sementara itu, proses identifikasi korban ditangani oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan. Selain korban yang telah dievakuasi sebelumnya, satu jenazah tambahan juga dilaporkan telah ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Saat ini, sudah ada sekitar 1.200 petugas yang melakukan upaya pencarian di lokasi kejadian.
Saat ini kami masih dalam proses penyelidikan dan evaluasi pelaksanaan operasi pencarian serta pertolongan yang dipimpin oleh Basarnas.
Dalam keseluruhan, pesawat ATR 42-500 itu melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Sebelum ke bandara, ada instruksi daripada Air Traffic Control (ATC) untuk melakukan pendaratan ke landasan pacu 21. Namun, setelah arahan koreksi diberikan, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau "lost contact".
Setelah itu, Airnav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten. Mereka membentuk <em>crisis center</em> di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 06.15 WITA, tim SAR gabungan mulai mengadakan operasi pencarian terpadu dengan menggunakan drone milik TNI AU untuk menyisir wilayah Gunung Bulusaraung yang berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Saat itu, tim SAR menemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya. Setelah temuan tersebut, Basarnas bersama TNI, Polri, KNKT, Kemenhub, dan Airnav menggelar konferensi pers guna menyampaikan perkembangan pencarian kepada publik.
Kemudian, pada pukul 11.59 WITA, satu jenazah berjenis kelamin laki-laki ditemukan oleh tim SAR gabungan. Penemuan tersebut langsung dilanjutkan dengan proses evakuasi dari lokasi kejadian.
Sementara itu, proses identifikasi korban ditangani oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan. Selain korban yang telah dievakuasi sebelumnya, satu jenazah tambahan juga dilaporkan telah ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Saat ini, sudah ada sekitar 1.200 petugas yang melakukan upaya pencarian di lokasi kejadian.