Kronologi kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, mengalir cepat. Pada Sabtu pagi, sekitar pukul 08.08 WIB, pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan misi pemantauan perairan Indonesia berlepas dari Bandara Internasional Adisumarmo di Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Saat mendekati bandara Makassar, pesawat meminta arahan ke petugas Air Traffic Control (ATC) untuk melakukan pendaratan. Pada pukul 12.23 WITA, ATC memberikan instruksi korektif posisi bagi awak pesawat. Namun, beberapa menit kemudian, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau "lost contact".
Menurut Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, di pagi Minggu, sekitar pukul 06.15 WITA, tim SAR gabungan mulai mencari sinyal dari lokasi kecelakaan. Setelah beberapa jam mencari, tim SAR berhasil menemukan serpihan pesawat yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya. Pukul 07.49 WITA, tim SAR juga mengidentifikasi jendela pesawat sebagai penanda awal titik kecelakaan.
Sehari setelah insiden, pukul 10.05 WITA, Basarnas bersama Tim SAR gabungan menyelesaikan proses pencarian dan menyampaikan hasil kepada publik melalui konferensi pers. Pada pukul 11.59 WITA, tim SAR berhasil menemukan satu jenazah korban yang ditemukan di dekat lokasi kecelakaan.
Hari itu juga, seluruh pihak terkait menggelar rapat koordinasi untuk memantau perkembangan pencarian dan evakuasi. Menteri Dudy Purwagandhi menyebutkan bahwa proses pencarian terjadi dalam kondisi cuaca yang buruk dan medan yang sulit, membuat pekerjaan tim penyelamat menjadi sangat menantang.
Saat ini, lokasi kecelakaan sedang diawasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan untuk melakukan identifikasi korban. Pihak Basarnas menyiapkan lokasi khusus di Pangkalan Udara Lanud Hasanuddin sebagai tempat pengumpulan seluruh bagian pesawat yang berhasil ditemukan.
Saat mendekati bandara Makassar, pesawat meminta arahan ke petugas Air Traffic Control (ATC) untuk melakukan pendaratan. Pada pukul 12.23 WITA, ATC memberikan instruksi korektif posisi bagi awak pesawat. Namun, beberapa menit kemudian, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau "lost contact".
Menurut Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, di pagi Minggu, sekitar pukul 06.15 WITA, tim SAR gabungan mulai mencari sinyal dari lokasi kecelakaan. Setelah beberapa jam mencari, tim SAR berhasil menemukan serpihan pesawat yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya. Pukul 07.49 WITA, tim SAR juga mengidentifikasi jendela pesawat sebagai penanda awal titik kecelakaan.
Sehari setelah insiden, pukul 10.05 WITA, Basarnas bersama Tim SAR gabungan menyelesaikan proses pencarian dan menyampaikan hasil kepada publik melalui konferensi pers. Pada pukul 11.59 WITA, tim SAR berhasil menemukan satu jenazah korban yang ditemukan di dekat lokasi kecelakaan.
Hari itu juga, seluruh pihak terkait menggelar rapat koordinasi untuk memantau perkembangan pencarian dan evakuasi. Menteri Dudy Purwagandhi menyebutkan bahwa proses pencarian terjadi dalam kondisi cuaca yang buruk dan medan yang sulit, membuat pekerjaan tim penyelamat menjadi sangat menantang.
Saat ini, lokasi kecelakaan sedang diawasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan untuk melakukan identifikasi korban. Pihak Basarnas menyiapkan lokasi khusus di Pangkalan Udara Lanud Hasanuddin sebagai tempat pengumpulan seluruh bagian pesawat yang berhasil ditemukan.