Krisis iklim dan limbah obat diabetes di sungai Jakarta
Warga Jakarta yang tinggal di daerah bantaran sungai menghadapi berbagai bahaya karena kualitas air yang buruk. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan risiko penyakit seperti penyakit kulit, pernapasan, dan gangguan pencernaan, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan hidup.
Cuaca ekstrem dan kualitas air sungai yang buruk menjadi semakin serius di Jakarta. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa adanya polutan seperti metformin dapat terbawa oleh aliran banjir. Selain itu, kenaikan suhu air sungai juga berpotensi mempengaruhi organisme air maupun manusia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 1/3 atau sebanyak 35,71 persen keluarga di Jakarta tinggal di daerah bantaran sungai. Kondisi ini menunjukkan bahwa warga tersebut sangat rentan terhadap bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh kualitas air yang buruk.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa tingginya prevalensi diabetes melitus (DM) di Jakarta merupakan penyebab utama pengenalan polutan seperti metformin di sungai. Pada 2023, prevalensi DM pada anak-anak meningkat hingga 70 kali lipat.
Korban limbah domestik di Sungai Angke sangat serius
Enda (41), warga yang tinggal persis di pinggir sungai tersebut, mengaku bahwa seluruh limbah domestik dari rumahnya langsung mengalir menuju Sungai Angke. Menurutnya, sistem pengolahan limbah domestik di daerah tersebut tidak memadai untuk mengatasi kualitas air yang buruk.
โDari gorongan, ini banyak kan ini selokan-selokan air, di sini, di depan. Langsung ke kali pembuangannya,โ ujar Enda saat ditemui Tirto.
Kondisi limbah domestik di Sungai Angke menimbulkan dampak yang sangat serius bagi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.
Warga Jakarta yang tinggal di daerah bantaran sungai menghadapi berbagai bahaya karena kualitas air yang buruk. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan risiko penyakit seperti penyakit kulit, pernapasan, dan gangguan pencernaan, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan hidup.
Cuaca ekstrem dan kualitas air sungai yang buruk menjadi semakin serius di Jakarta. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa adanya polutan seperti metformin dapat terbawa oleh aliran banjir. Selain itu, kenaikan suhu air sungai juga berpotensi mempengaruhi organisme air maupun manusia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 1/3 atau sebanyak 35,71 persen keluarga di Jakarta tinggal di daerah bantaran sungai. Kondisi ini menunjukkan bahwa warga tersebut sangat rentan terhadap bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh kualitas air yang buruk.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa tingginya prevalensi diabetes melitus (DM) di Jakarta merupakan penyebab utama pengenalan polutan seperti metformin di sungai. Pada 2023, prevalensi DM pada anak-anak meningkat hingga 70 kali lipat.
Korban limbah domestik di Sungai Angke sangat serius
Enda (41), warga yang tinggal persis di pinggir sungai tersebut, mengaku bahwa seluruh limbah domestik dari rumahnya langsung mengalir menuju Sungai Angke. Menurutnya, sistem pengolahan limbah domestik di daerah tersebut tidak memadai untuk mengatasi kualitas air yang buruk.
โDari gorongan, ini banyak kan ini selokan-selokan air, di sini, di depan. Langsung ke kali pembuangannya,โ ujar Enda saat ditemui Tirto.
Kondisi limbah domestik di Sungai Angke menimbulkan dampak yang sangat serius bagi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.