Krisis di Iran, Rial Anjlok ke Titik Terendah dalam Sejarah
Kondisi ekonomi Iran terus memburuk, menyebabkan nilai mata uangnya, Rial, jatuh ke titik terendah dalam sejarah. Sanksi internasional, inflasi tinggi, pembatasan ekspor minyak, dan ketidakstabilan politik adalah penyebab utama anjloknya nilai mata uang.
Mata uang Iran Rial saat ini setara dengan 1,137,500,00 Rial per dolar AS, sedangkan 1 euro sama dengan 1,327,240,69 Rial. Anjlok ini merupakan yang terendah dalam sejarah dan membuat Iran semakin terisolasi dari sistem keuangan global.
Krisis ekonomi Iran diperparah oleh beberapa faktor besar, termasuk perang selama 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 yang menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah kota dan membebani keuangan negara. Pada September 2025, PBB memberlakukan sanksi ekonomi terkait program nuklir Iran, setelah Dewan Keamanan PBB menolak mencabut sanksi secara permanen.
Kebijakan pemerintah juga menambah beban masyarakat. Pada Desember 2025, Iran menerapkan sistem baru subsidi bahan bakar yang pada praktiknya menaikkan harga bensin. Harga produk susu telah mengalami kenaikan enam kali lipat dalam setahun, sedangkan barang-barang lain bahkan melonjak lebih dari sepuluh kali lipat.
Keluhan masyarakat semakin keras terdengar, dengan situasi inilah yang mendorong kemarahan publik dan menjadikan krisis ekonomi sebagai pemicu utama protes besar-besaran di Iran.
Kondisi ekonomi Iran terus memburuk, menyebabkan nilai mata uangnya, Rial, jatuh ke titik terendah dalam sejarah. Sanksi internasional, inflasi tinggi, pembatasan ekspor minyak, dan ketidakstabilan politik adalah penyebab utama anjloknya nilai mata uang.
Mata uang Iran Rial saat ini setara dengan 1,137,500,00 Rial per dolar AS, sedangkan 1 euro sama dengan 1,327,240,69 Rial. Anjlok ini merupakan yang terendah dalam sejarah dan membuat Iran semakin terisolasi dari sistem keuangan global.
Krisis ekonomi Iran diperparah oleh beberapa faktor besar, termasuk perang selama 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 yang menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah kota dan membebani keuangan negara. Pada September 2025, PBB memberlakukan sanksi ekonomi terkait program nuklir Iran, setelah Dewan Keamanan PBB menolak mencabut sanksi secara permanen.
Kebijakan pemerintah juga menambah beban masyarakat. Pada Desember 2025, Iran menerapkan sistem baru subsidi bahan bakar yang pada praktiknya menaikkan harga bensin. Harga produk susu telah mengalami kenaikan enam kali lipat dalam setahun, sedangkan barang-barang lain bahkan melonjak lebih dari sepuluh kali lipat.
Keluhan masyarakat semakin keras terdengar, dengan situasi inilah yang mendorong kemarahan publik dan menjadikan krisis ekonomi sebagai pemicu utama protes besar-besaran di Iran.