Suhu di Rusia Terus Mengaburkan Kaca Hitam Kota Terdingin Dunia
Bumi menawarkan berbagai wilayah dengan suhu ekstrem. Namun, jika berbicara tentang kota terdingin di dunia pada 2025, jawabannya bukan di Kutub Utara atau Antartika, melainkan di Rusia. Yakutsk, yang merupakan salah satu kota terbesar di wilayah tersebut, berhasil memperebutkan gelar sebagai kota terdingin di dunia.
Pada 5 Februari 1891, rekor suhu terendah di Yakutsk mencapai -64,4°C. Meski itu terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu, pada bulan Januari 2025, suhu rata-rata terendah di kota ini masih berada di kisaran -42°C. Pada masa-masa tersebut, paparan sinar matahari hanya kurang dari empat jam per hari.
Suhu ekstrem tersebut membuat masyarakat Yakutsk harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Meski suhu terendah pada musim dingin, di musim panas suhu kota ini dapat mencapai 26°C, bahkan lebih hangat dibandingkan London pada periode yang sama.
Perbedaan suhu sangat kontras antara musim panas dan musim dingin. Pada musim panas, suhu bisa melonjak hingga di atas 20 derajat Celsius, sementara pada musim dingin, suhu bisa turun hingga -35 sampai -42 derajat Celsius.
Yakutsk dibangun di atas permafrost permanen, yaitu tanah yang membeku sepanjang tahun dan memperkuat suhu ekstrem di wilayah tersebut. Sebagian besar penduduk kota ini bekerja di perusahaan Alrosa, pengelola salah satu tambang berlian terbesar di dunia.
Meski Yakutsk memegang gelar kota terdingin, rekor tempat berpenghuni terdingin di dunia dipegang oleh desa kecil bernama Oymyakon, juga di Rusia. Desa terpencil berpenduduk sekitar 500 orang ini pernah mencatat suhu terendah hingga -71,2°C.
Kondisi ekstrem tersebut membuat kendaraan yang diparkir di luar rumah harus terus menyala. Jika mesin dimatikan, kendaraan bisa membeku dan tidak dapat dinyalakan kembali.
Bumi menawarkan berbagai wilayah dengan suhu ekstrem. Namun, jika berbicara tentang kota terdingin di dunia pada 2025, jawabannya bukan di Kutub Utara atau Antartika, melainkan di Rusia. Yakutsk, yang merupakan salah satu kota terbesar di wilayah tersebut, berhasil memperebutkan gelar sebagai kota terdingin di dunia.
Pada 5 Februari 1891, rekor suhu terendah di Yakutsk mencapai -64,4°C. Meski itu terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu, pada bulan Januari 2025, suhu rata-rata terendah di kota ini masih berada di kisaran -42°C. Pada masa-masa tersebut, paparan sinar matahari hanya kurang dari empat jam per hari.
Suhu ekstrem tersebut membuat masyarakat Yakutsk harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Meski suhu terendah pada musim dingin, di musim panas suhu kota ini dapat mencapai 26°C, bahkan lebih hangat dibandingkan London pada periode yang sama.
Perbedaan suhu sangat kontras antara musim panas dan musim dingin. Pada musim panas, suhu bisa melonjak hingga di atas 20 derajat Celsius, sementara pada musim dingin, suhu bisa turun hingga -35 sampai -42 derajat Celsius.
Yakutsk dibangun di atas permafrost permanen, yaitu tanah yang membeku sepanjang tahun dan memperkuat suhu ekstrem di wilayah tersebut. Sebagian besar penduduk kota ini bekerja di perusahaan Alrosa, pengelola salah satu tambang berlian terbesar di dunia.
Meski Yakutsk memegang gelar kota terdingin, rekor tempat berpenghuni terdingin di dunia dipegang oleh desa kecil bernama Oymyakon, juga di Rusia. Desa terpencil berpenduduk sekitar 500 orang ini pernah mencatat suhu terendah hingga -71,2°C.
Kondisi ekstrem tersebut membuat kendaraan yang diparkir di luar rumah harus terus menyala. Jika mesin dimatikan, kendaraan bisa membeku dan tidak dapat dinyalakan kembali.