Kongres AS Mulai Akses Dokumen Epstein Tanpa Sensor, tapi Guna apa?
Kemarin, anggota Kongres Amerika Serikat (AS) mulai akses ke jutaan dokumen terkait pelaku pelecehan seksual Jeffrey Epstein yang sebelumnya disensor. Dokumen ini berada dalam penguasaan pemerintah federal dan sebelumnya dirilis oleh Departemen Kehakiman (DOJ) dalam bentuk yang sebagian besar disensor.
Menurut laporan Axios, kemudian legislator dapat meninjau detail yang tersembunyi dan menilai apakah pemerintahan Trump telah mematuhi Undang-Undang Epstein Transparency Act secara penuh. Undang-undang ini mewajibkan Departemen Kehakiman merilis jutaan dokumen dari penyelidikan Epstein.
Namun, ketika administrasi Trump memulai pengungkapan, banyak catatan disensor, sehingga memberikan sedikit informasi baru atau menutupi detail penting. Ini menyebabkan protes dari legislator dan publik.
Beberapa nama pria yang disensor dalam dokumen Epstein telah ditentang oleh anggota Kongres Ro Khanna dan Thomas Massie. Mereka mengatakan bahwa ada enam pria, beberapa dengan foto mereka, yang disensor tanpa penjelasan, dan ini sangat mengkhawatirkan.
Massie menegaskan akan memberi DOJ kesempatan memperbaiki kesalahan sebelum menyingkap nama-nama itu di DPR atau sidang komite. Namun, rakyat AS masih tidak tahu apa yang terjadi pada dokumen-dokumen ini dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.
Proses peninjauan dokumen ini dilakukan menggunakan komputer khusus di gedung DOJ. Menurut laporan Axios, Jamie Raskin, anggota senior Komite Kehakiman DPR, mengatakan bahwa dokumen masih menyensor nama orang-orang yang jelas bukan korban, termasuk Les Wexner, mantan CEO Victoria’s Secret.
Dengan demikian, pilihan editor ini ingin menekankan pentingnya transparansi dan kejujuran dalam penyelidikan Epstein. Rakyat AS berhak tahu apa yang terjadi pada dokumen-dokumen tersebut dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.
Sementara itu, pengacara Epstein telah menuntut CIA-NSA untuk membuka arsip lama terkait kasus Epstein. Pengacara ini berharap dapat mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang apa yang terjadi pada kasus-kasus tersebut dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.
Kesimpulannya, kemudian legislator Kongres AS mulai akses ke dokumen Epstein tanpa sensor, tapi masih belum ada jawaban apa yang terjadi pada dokumen-dokumen tersebut dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.
Kemarin, anggota Kongres Amerika Serikat (AS) mulai akses ke jutaan dokumen terkait pelaku pelecehan seksual Jeffrey Epstein yang sebelumnya disensor. Dokumen ini berada dalam penguasaan pemerintah federal dan sebelumnya dirilis oleh Departemen Kehakiman (DOJ) dalam bentuk yang sebagian besar disensor.
Menurut laporan Axios, kemudian legislator dapat meninjau detail yang tersembunyi dan menilai apakah pemerintahan Trump telah mematuhi Undang-Undang Epstein Transparency Act secara penuh. Undang-undang ini mewajibkan Departemen Kehakiman merilis jutaan dokumen dari penyelidikan Epstein.
Namun, ketika administrasi Trump memulai pengungkapan, banyak catatan disensor, sehingga memberikan sedikit informasi baru atau menutupi detail penting. Ini menyebabkan protes dari legislator dan publik.
Beberapa nama pria yang disensor dalam dokumen Epstein telah ditentang oleh anggota Kongres Ro Khanna dan Thomas Massie. Mereka mengatakan bahwa ada enam pria, beberapa dengan foto mereka, yang disensor tanpa penjelasan, dan ini sangat mengkhawatirkan.
Massie menegaskan akan memberi DOJ kesempatan memperbaiki kesalahan sebelum menyingkap nama-nama itu di DPR atau sidang komite. Namun, rakyat AS masih tidak tahu apa yang terjadi pada dokumen-dokumen ini dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.
Proses peninjauan dokumen ini dilakukan menggunakan komputer khusus di gedung DOJ. Menurut laporan Axios, Jamie Raskin, anggota senior Komite Kehakiman DPR, mengatakan bahwa dokumen masih menyensor nama orang-orang yang jelas bukan korban, termasuk Les Wexner, mantan CEO Victoria’s Secret.
Dengan demikian, pilihan editor ini ingin menekankan pentingnya transparansi dan kejujuran dalam penyelidikan Epstein. Rakyat AS berhak tahu apa yang terjadi pada dokumen-dokumen tersebut dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.
Sementara itu, pengacara Epstein telah menuntut CIA-NSA untuk membuka arsip lama terkait kasus Epstein. Pengacara ini berharap dapat mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang apa yang terjadi pada kasus-kasus tersebut dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.
Kesimpulannya, kemudian legislator Kongres AS mulai akses ke dokumen Epstein tanpa sensor, tapi masih belum ada jawaban apa yang terjadi pada dokumen-dokumen tersebut dan bagaimana pemerintah federal memutuskan untuk menyensor catatan-catat penting.