Operasi militer AS berakhir dengan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Ia ditangkap dan diculik dengan tuduhan narkoba, perdagangan kokain, dan kepemilikan senjata api. Sementara itu, istrinya, Cilia Flores, juga ditangkap dalam kasus yang sama.
Maduro dan Flores mengaku tidak bersalah dan menafikan tuduhan tersebut. Mereka berdua menyatakan bahwa mereka masih berstatus Presiden Venezuela dalam dakwaan pengadilan federal Manhattan New York.
Penangkapan Maduro menjadi puncak ketegangan antara AS dan Venezuela, yang telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah Trump menuduh Maduro menjalankan kartel narkoba dan memanipulasi hasil pemilu. Sementara itu, Maduro membantah tuduhan tersebut dan menuding bahwa AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela.
Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Rodriguez sebagai presiden sementara setelah penangkapan Maduro. Delcy Rodríguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela pada Senin (5/1) dalam upaya untuk memperkuat kedaulatan negara tersebut.
Anggota parlemen Venezuela berkumpul di ibu kota Caracas untuk melanjutkan upacara pengambilan sumpah Majelis Nasional. Rodríguez menunjukkan nada diplomatis untuk bekerja sama dengan AS, namun masih mempertahankan posisi yang keras terhadap tindakan AS.
Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat pada Senin (5/1) untuk membahas operasi AS dan penculikan Maduro. Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, dan Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, hadir dalam pertemuan tersebut.
Mike Waltz mengungkapkan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela, namun melihat penculikan Maduro sebagai tindakan yang sah karena telah mengancam keamanan nasional AS dan menindas warga Venezuela. Sementara itu, Maduro dinilai sebagai kepala organisasi narkoterorisme yang menimbulkan ancaman langsung bagi AS dengan mengizinkan impor narkoba ilegal.
Venezuela berada dalam Status Darurat Nasional, sementara militer Venezuela siaga untuk menjaga kedaulatan. Polisi juga melakukan pengejaran terhadap pihak-pihak yang dianggap mendukung invasi AS. Ekspor minyak Venezuela dilaporkan lumpuh akibat blokade militer dan ketidakpastian politik.
Cadangan minyak Venezuela memiliki peringkat terbesar di dunia, namun produksi minyak mentah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemerintahan Maduro telah mengalami kesulitan ekonomi yang signifikan, dengan inflasi mencapai lebih dari 130.000 persen dan ekonomi menyusut 71 persen antara tahun 2012 dan 2020.
Pemerintah Maduro dikenai sanksi agresif oleh AS dan negara-negara lain, termasuk dakwaan korupsi dan tuduhan lainnya.
Maduro dan Flores mengaku tidak bersalah dan menafikan tuduhan tersebut. Mereka berdua menyatakan bahwa mereka masih berstatus Presiden Venezuela dalam dakwaan pengadilan federal Manhattan New York.
Penangkapan Maduro menjadi puncak ketegangan antara AS dan Venezuela, yang telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintah Trump menuduh Maduro menjalankan kartel narkoba dan memanipulasi hasil pemilu. Sementara itu, Maduro membantah tuduhan tersebut dan menuding bahwa AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela.
Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Rodriguez sebagai presiden sementara setelah penangkapan Maduro. Delcy Rodríguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela pada Senin (5/1) dalam upaya untuk memperkuat kedaulatan negara tersebut.
Anggota parlemen Venezuela berkumpul di ibu kota Caracas untuk melanjutkan upacara pengambilan sumpah Majelis Nasional. Rodríguez menunjukkan nada diplomatis untuk bekerja sama dengan AS, namun masih mempertahankan posisi yang keras terhadap tindakan AS.
Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat pada Senin (5/1) untuk membahas operasi AS dan penculikan Maduro. Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, dan Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, hadir dalam pertemuan tersebut.
Mike Waltz mengungkapkan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela, namun melihat penculikan Maduro sebagai tindakan yang sah karena telah mengancam keamanan nasional AS dan menindas warga Venezuela. Sementara itu, Maduro dinilai sebagai kepala organisasi narkoterorisme yang menimbulkan ancaman langsung bagi AS dengan mengizinkan impor narkoba ilegal.
Venezuela berada dalam Status Darurat Nasional, sementara militer Venezuela siaga untuk menjaga kedaulatan. Polisi juga melakukan pengejaran terhadap pihak-pihak yang dianggap mendukung invasi AS. Ekspor minyak Venezuela dilaporkan lumpuh akibat blokade militer dan ketidakpastian politik.
Cadangan minyak Venezuela memiliki peringkat terbesar di dunia, namun produksi minyak mentah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemerintahan Maduro telah mengalami kesulitan ekonomi yang signifikan, dengan inflasi mencapai lebih dari 130.000 persen dan ekonomi menyusut 71 persen antara tahun 2012 dan 2020.
Pemerintah Maduro dikenai sanksi agresif oleh AS dan negara-negara lain, termasuk dakwaan korupsi dan tuduhan lainnya.