Rupiah Menguat, Pasar Mata Uang Asia Terbuka dengan Semangat
Dalam perdagangan pagi hari ini, rupiah menutupnya dengan penguatan sebesar 0,24 persen, mencapai Rp16.726 per dolar AS. Ini merupakan penurunan terdalam sejak tahun 2022 dan menunjukkan semangat pasar mata uang Asia.
Ringgit Malaysia menjadi mata uang yang paling mengalami peningkatan dengan penguatan sebesar 0,77 persen, diikuti oleh baht Thailand dengan penguatan sebesar 0,43 persen. Dolar Taiwan juga mengekspresikan semangatnya dengan penguatan sebesar 0,43 persen.
Selain itu, won Korea Selatan naik 0,38 persen, peso Filipina juga mengekspresikan semangatnya dengan penguatan sebesar 0,38 persen. Namun, yuan China hanya menutupnya dengan penguatan sebesar 0,08 persen.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pasar masih fokus terhadap pertemuan kebijakan dua hari Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan berakhir pada hari ini. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya.
Namun, perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Fed Jerome Powell menimbulkan kekhawatiran pasar tentang independensi bank sentral dari campur tangan politik. Selain itu, pasar juga khawatir akan potensi penutupan pemerintahan AS kembali.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kebijakan pembiayaan utang yang diprediksi akan menghadapi tantangan berat di tahun 2026. Kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar daripada target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026.
Dengan demikian, rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di kisaran Rp16.760-Rp16.790 per dolar AS.
Dalam perdagangan pagi hari ini, rupiah menutupnya dengan penguatan sebesar 0,24 persen, mencapai Rp16.726 per dolar AS. Ini merupakan penurunan terdalam sejak tahun 2022 dan menunjukkan semangat pasar mata uang Asia.
Ringgit Malaysia menjadi mata uang yang paling mengalami peningkatan dengan penguatan sebesar 0,77 persen, diikuti oleh baht Thailand dengan penguatan sebesar 0,43 persen. Dolar Taiwan juga mengekspresikan semangatnya dengan penguatan sebesar 0,43 persen.
Selain itu, won Korea Selatan naik 0,38 persen, peso Filipina juga mengekspresikan semangatnya dengan penguatan sebesar 0,38 persen. Namun, yuan China hanya menutupnya dengan penguatan sebesar 0,08 persen.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pasar masih fokus terhadap pertemuan kebijakan dua hari Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan berakhir pada hari ini. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut dalam pertemuan sebelumnya.
Namun, perselisihan Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Fed Jerome Powell menimbulkan kekhawatiran pasar tentang independensi bank sentral dari campur tangan politik. Selain itu, pasar juga khawatir akan potensi penutupan pemerintahan AS kembali.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti kebijakan pembiayaan utang yang diprediksi akan menghadapi tantangan berat di tahun 2026. Kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar daripada target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026.
Dengan demikian, rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di kisaran Rp16.760-Rp16.790 per dolar AS.