Rupiah terus mengangkat mata uang Asia, mencapai Rp16.726 per dolar AS di perdagangan pagi ini. Ini menandakan rupiah kembali berada di jalur kuat, meski masih memiliki fluktuasi yang signifikan.
Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, pasar saat ini masih fokus pada pertemuan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang diharapkan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil. Namun, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua Fed Jerome Powell membuat pasar khawatir tentang independensi bank sentral dari campur tangan politik.
Dalam hal ini, rupiah terus bergerak dengan fluktuasi yang kuat, meski masih memiliki daya tarik ke arah Rp16.760-Rp16.790 per dolar AS. Penguatan rupiah ini juga diiringi oleh penguatan mata uang kawasan Asia lainnya, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, dan yuan China.
Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa kebijakan pembiayaan utang yang akan dilakukan dalam tahun 2026 akan menghadapi tantangan berat. Kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar daripada target pembiayaan utang netto, sehingga ini dapat mempengaruhi rupiah di perdagangan hari ini.
Pasar juga khawatir tentang potensi penutupan pemerintahan AS kembali setelah anggota Senat dari partai Demokrat berjanji memblokir RUU pendanaan besar. Ini membuat peluang penutupan melonjak tajam, dan rupiah terus menghadapi fluktuasi yang kuat.
Menurut pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, pasar saat ini masih fokus pada pertemuan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang diharapkan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil. Namun, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua Fed Jerome Powell membuat pasar khawatir tentang independensi bank sentral dari campur tangan politik.
Dalam hal ini, rupiah terus bergerak dengan fluktuasi yang kuat, meski masih memiliki daya tarik ke arah Rp16.760-Rp16.790 per dolar AS. Penguatan rupiah ini juga diiringi oleh penguatan mata uang kawasan Asia lainnya, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, dan yuan China.
Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa kebijakan pembiayaan utang yang akan dilakukan dalam tahun 2026 akan menghadapi tantangan berat. Kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar daripada target pembiayaan utang netto, sehingga ini dapat mempengaruhi rupiah di perdagangan hari ini.
Pasar juga khawatir tentang potensi penutupan pemerintahan AS kembali setelah anggota Senat dari partai Demokrat berjanji memblokir RUU pendanaan besar. Ini membuat peluang penutupan melonjak tajam, dan rupiah terus menghadapi fluktuasi yang kuat.