Israel menghancurkan markas UNRWA di Yerusalem, bukannya hanya bangunan yang rusak. Ini adalah luka pada kemanusiaan kita semua.
Sukamta, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, menekankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal terancam runtuh setelah markas United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) di Yerusalem Timur dihancurkan. Ini bukan hanya serangan terhadap fasilitas fisik, melainkan juga menyerang nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Penghancuran markas ini merupakan luka bagi nurani kemanusiaan kita semua. Ketika sebuah lembaga yang bertugas memberi makan, pendidikan, dan perlindungan bagi pengungsi justru dijadikan sasaran, maka yang diserang bukan hanya sebuah bangunan, tetapi rasa kemanusiaan itu sendiri.
Sukamta menekankan bahwa UNRWA selama ini hadir untuk melindungi kelompok paling rentan di Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan keluarga pengungsi yang hidup dalam ketidakpastian akibat konflik berkepanjangan. Penghancuran fasilitas kemanusiaan sama artinya dengan menghilangkan harapan bagi para pengungsi yang tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hidup di tengah situasi krisis.
Dengan menekankan nilai-nilai kemanusiaan, Sukamta juga ingin menegaskan bahwa apapun alasan politik dan keamanan yang dikemukakan, nilai kemanusiaan seharusnya tetap menjadi batas yang tidak boleh dilanggar. Menurutnya, ketika batas tersebut runtuh, dunia berisiko memasuki fase berbahaya berupa normalisasi penderitaan dan pembenaran atas ketidakadilan.
Solidaritas terhadap rakyat Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan tanggung jawab moral bersama untuk memastikan bahwa nilai kemanusiaan tetap hidup di tengah konflik dan kekerasan.
Sukamta, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, menekankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal terancam runtuh setelah markas United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) di Yerusalem Timur dihancurkan. Ini bukan hanya serangan terhadap fasilitas fisik, melainkan juga menyerang nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Penghancuran markas ini merupakan luka bagi nurani kemanusiaan kita semua. Ketika sebuah lembaga yang bertugas memberi makan, pendidikan, dan perlindungan bagi pengungsi justru dijadikan sasaran, maka yang diserang bukan hanya sebuah bangunan, tetapi rasa kemanusiaan itu sendiri.
Sukamta menekankan bahwa UNRWA selama ini hadir untuk melindungi kelompok paling rentan di Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan keluarga pengungsi yang hidup dalam ketidakpastian akibat konflik berkepanjangan. Penghancuran fasilitas kemanusiaan sama artinya dengan menghilangkan harapan bagi para pengungsi yang tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hidup di tengah situasi krisis.
Dengan menekankan nilai-nilai kemanusiaan, Sukamta juga ingin menegaskan bahwa apapun alasan politik dan keamanan yang dikemukakan, nilai kemanusiaan seharusnya tetap menjadi batas yang tidak boleh dilanggar. Menurutnya, ketika batas tersebut runtuh, dunia berisiko memasuki fase berbahaya berupa normalisasi penderitaan dan pembenaran atas ketidakadilan.
Solidaritas terhadap rakyat Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan tanggung jawab moral bersama untuk memastikan bahwa nilai kemanusiaan tetap hidup di tengah konflik dan kekerasan.