Israel menghancurkan markas UNRWA di Yerusalem, kata Sukamta.
Penghancuran markas United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) di Yerusalem Timur dilaporkan terjadi pada 20 Januari 2026. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, mengecam keras tindakan tersebut.
Menurutnya, penghancuran markas bukan hanya serangan terhadap fasilitas fisik, melainkan juga terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. "Penghancuran markas United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Neard East (UNRWA) di Yerusalem Timur adalah luka bagi nurani kemanusiaan," kata Sukamta.
Markas UNRWA menjadi salah satu pusat pengungsian warga Palestina di tengah pendudukan Yerusalem Timur oleh Israel. Sekarang, markas tersebut telah ditutup dan melarang aktivitas pengungsi di sana.
Sukamta menegaskan bahwa UNRWA selama ini hadir untuk melindungi kelompok paling rentan di Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan keluarga pengungsi yang hidup dalam ketidakpastian akibat konflik berkepanjangan.
Penghancuran fasilitas kemanusiaan sama artinya dengan menghilangkan harapan bagi para pengungsi yang tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hidup di tengah situasi krisis. Menurutnya, ketika batas tersebut runtuh, dunia berisiko memasuki fase berbahaya berupa normalisasi penderitaan dan pembenaran atas ketidakadilan.
"Solidaritas terhadap rakyat Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan tanggung jawab moral bersama untuk memastikan bahwa nilai kemanusiaan tetap hidup di tengah konflik dan kekerasan," ujarnya.
Penghancuran markas United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA) di Yerusalem Timur dilaporkan terjadi pada 20 Januari 2026. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, mengecam keras tindakan tersebut.
Menurutnya, penghancuran markas bukan hanya serangan terhadap fasilitas fisik, melainkan juga terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. "Penghancuran markas United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Neard East (UNRWA) di Yerusalem Timur adalah luka bagi nurani kemanusiaan," kata Sukamta.
Markas UNRWA menjadi salah satu pusat pengungsian warga Palestina di tengah pendudukan Yerusalem Timur oleh Israel. Sekarang, markas tersebut telah ditutup dan melarang aktivitas pengungsi di sana.
Sukamta menegaskan bahwa UNRWA selama ini hadir untuk melindungi kelompok paling rentan di Palestina, termasuk anak-anak, perempuan, dan keluarga pengungsi yang hidup dalam ketidakpastian akibat konflik berkepanjangan.
Penghancuran fasilitas kemanusiaan sama artinya dengan menghilangkan harapan bagi para pengungsi yang tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hidup di tengah situasi krisis. Menurutnya, ketika batas tersebut runtuh, dunia berisiko memasuki fase berbahaya berupa normalisasi penderitaan dan pembenaran atas ketidakadilan.
"Solidaritas terhadap rakyat Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan tanggung jawab moral bersama untuk memastikan bahwa nilai kemanusiaan tetap hidup di tengah konflik dan kekerasan," ujarnya.