Kisruh di tengah-tengah kejuaraan bulu tangkis BWF World Tour, turnamen India Open 2026 yang diselenggarakan di New Delhi ini menjadi semacam fenomena gunung es. Di balik kejadian-kejadian yang aneh seperti kotoran burung merpati dan kualitas udara yang sangat buruk, terdapat persoalan sosial ekonomi yang lebih kompleks dari sisi keselamatan hidup masyarakat perkotaan.
Kota metropolitan Delhi menjadi tuan rumah turnamen India Open ini dengan populasi 34 juta jiwa. Wilayah industri utama di kawasan tersebut menyebabkan polusi udara, emisi kendaraan, debu konstruksi, dan lain-lain. Banyak industri seperti tekstil, logam, kertas, karet, plastik, produk batu bara, makanan, dan kimia yang beroperasi di sekitar New Delhi.
Pada 2024 lalu, data dari IQAir menyatakan bahwa Delhi menjadi salah satu kota di dunia dengan tingkat konsentrasi partikel udara paling parah. Masih dari sumber yang sama, perbaikan jangka pendek soal kualitas udara di Delhi umumnya bergantung pada perubahan cuaca.
Keterlibatan manusia dalam peningkatan populasi burung merpati di perkotaan juga menjadi salah satu faktor penyebab gangguan yang terjadi di India Open 2026. Burung ini memiliki pola makan generalis, bersarang di tepian karang untuk lingkungan alaminya, dan pertumbuhan populasi yang relatif cepat.
Dalam konteks sosial ekonomi, masalah seperti ini menuntut pemangku kebijakan mengatur semua untuk berjalan seiring tanpa ada yang dikorbankan. Namun sayang harapan ideal itu boleh dibilang jauh panggang dari api terutama di tataran negara berkembang.
Pemangku kebijakan harus lebih proaktif dalam mencari solusi untuk persoalan sosial ekonomi dan lingkungan hidup yang menimbulkan keselamatan hidup masyarakat perkotaan.
Kota metropolitan Delhi menjadi tuan rumah turnamen India Open ini dengan populasi 34 juta jiwa. Wilayah industri utama di kawasan tersebut menyebabkan polusi udara, emisi kendaraan, debu konstruksi, dan lain-lain. Banyak industri seperti tekstil, logam, kertas, karet, plastik, produk batu bara, makanan, dan kimia yang beroperasi di sekitar New Delhi.
Pada 2024 lalu, data dari IQAir menyatakan bahwa Delhi menjadi salah satu kota di dunia dengan tingkat konsentrasi partikel udara paling parah. Masih dari sumber yang sama, perbaikan jangka pendek soal kualitas udara di Delhi umumnya bergantung pada perubahan cuaca.
Keterlibatan manusia dalam peningkatan populasi burung merpati di perkotaan juga menjadi salah satu faktor penyebab gangguan yang terjadi di India Open 2026. Burung ini memiliki pola makan generalis, bersarang di tepian karang untuk lingkungan alaminya, dan pertumbuhan populasi yang relatif cepat.
Dalam konteks sosial ekonomi, masalah seperti ini menuntut pemangku kebijakan mengatur semua untuk berjalan seiring tanpa ada yang dikorbankan. Namun sayang harapan ideal itu boleh dibilang jauh panggang dari api terutama di tataran negara berkembang.
Pemangku kebijakan harus lebih proaktif dalam mencari solusi untuk persoalan sosial ekonomi dan lingkungan hidup yang menimbulkan keselamatan hidup masyarakat perkotaan.