Kisah warga Cisarua yang selamat dari longsor yang terjadi jam 3 pagi, saat sebagian besar warga masih terlelap. Tanah longsor membelah lereng Gunung Burangrang, menyeret bangunan dan penghuninya ke puing-puing. Ia bersama keluarganya berlari ke tempat tinggi untuk selamat.
Rumah-rumah di Kampung Kuda, RT 1 RW 10, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, akhirnya menyatu dengan tanah. Ibu mertuanya berada di rumah lain yang berada di bagian atas dan berhasil ditemukan. Sementara itu, anggota keluarga lain masih belum ditemukan hingga saat ini.
"Total ada 11 saudara yang masih dicari," kata Adi kepada wartawan. Yang belum ketemu paman 2 sama anak-anaknya, terus nenek, dan keluarga istri. Ibu mertuanya sudah ketemu, tadi sudah dicek oleh petugas.
Longsor datang pada dini hari, pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap. Bukan alarm yang membangunnya melainkan teriakan dan suara gemuruh dari arah bawah rumahnya. Adi mengira lindu. Hujan disertai angin masih turun sejak malam sebelumnya.
Pagi harinya, ia menyadari kampung di rumah tempat ibu mertuanya berada telah lenyap. "Pas lihat pagi, kaget. Rumah-rumah sudah rata," ungkap Adi.
Warga lain yang selamat, Neng Evi (40), mengingat suara gemuruh yang datang dari arah Gunung Burangrang. "Kayak gempa. Kaca lemari sampai getar," ucap perempuan ini.
Pagi harinya, ia melihat puluhan rumah telah hilang. Tanah dari lereng gunung mengalir ke bawah, menyeret bangunan dan penghuninya. Evi bisa selamat karena berlari dengan warga lain ke tempat tinggi. Ia belum berani kembali ke rumahnya. Ancaman longsor susulan masih membayanginya.
Ella Rohmatika (34), mengatakan tujuh anggota keluarganya dinyatakan hilang. Saudara 7 orang, bibi saya, paman saya, sama anaknya, terus cucu dan menantunya karena rumahnya pas di lokasi itu. Sekarang belum ditemukan, posisi rumah pas yang rata itu.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, menuturkan sebanyak 25 kantong jenazah telah ditemukan dan telah menjalani proses post mortem untuk keperluan identifikasi.
Rumah-rumah di Kampung Kuda, RT 1 RW 10, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, akhirnya menyatu dengan tanah. Ibu mertuanya berada di rumah lain yang berada di bagian atas dan berhasil ditemukan. Sementara itu, anggota keluarga lain masih belum ditemukan hingga saat ini.
"Total ada 11 saudara yang masih dicari," kata Adi kepada wartawan. Yang belum ketemu paman 2 sama anak-anaknya, terus nenek, dan keluarga istri. Ibu mertuanya sudah ketemu, tadi sudah dicek oleh petugas.
Longsor datang pada dini hari, pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap. Bukan alarm yang membangunnya melainkan teriakan dan suara gemuruh dari arah bawah rumahnya. Adi mengira lindu. Hujan disertai angin masih turun sejak malam sebelumnya.
Pagi harinya, ia menyadari kampung di rumah tempat ibu mertuanya berada telah lenyap. "Pas lihat pagi, kaget. Rumah-rumah sudah rata," ungkap Adi.
Warga lain yang selamat, Neng Evi (40), mengingat suara gemuruh yang datang dari arah Gunung Burangrang. "Kayak gempa. Kaca lemari sampai getar," ucap perempuan ini.
Pagi harinya, ia melihat puluhan rumah telah hilang. Tanah dari lereng gunung mengalir ke bawah, menyeret bangunan dan penghuninya. Evi bisa selamat karena berlari dengan warga lain ke tempat tinggi. Ia belum berani kembali ke rumahnya. Ancaman longsor susulan masih membayanginya.
Ella Rohmatika (34), mengatakan tujuh anggota keluarganya dinyatakan hilang. Saudara 7 orang, bibi saya, paman saya, sama anaknya, terus cucu dan menantunya karena rumahnya pas di lokasi itu. Sekarang belum ditemukan, posisi rumah pas yang rata itu.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, menuturkan sebanyak 25 kantong jenazah telah ditemukan dan telah menjalani proses post mortem untuk keperluan identifikasi.