Sultan Hamengkubuwono IX, Wira Permaisuri Kekayaan Indonesia, Ternyata Bisa Dimarahi oleh Tukang Beras. Seperti yang dikisahkan dalam sebuah kisah luar biasa, seorang warga Yogyakarta tak berani mengatakan bahwa sosok yang duduk di atas truk pengangkut beras itu adalah Sultan Hamengkubuwono IX.
Dia meminta tumpangan dan dibantu membawa karung besar ke dalam truk tersebut. Namun, ketika dia ingin mendapatkan upahnya, dia ditolak oleh seorang laki-laki dengan penampilan mewah yang mengenakan jaket dan topi. "Hai, engkau ini kaya gak, engkau punya uang saku begitu? Aduh, engkau sombong!" kata tukang beras itu.
Penolakan Sri Sultan membuatnya merasa kecewa dan kemarahan datang dari dirinya. Dia berpikir bahwa karena nominal uang yang sedikit, dia ini tidak mau menerimanya. Bahkan, ketika Sri Sultan sudah pergi, dia masih marah dan mengeluh kepada orang lain.
Namun, ada orang yang menjelaskan kebenaran, yaitu sosok sesungguhnya supir truk tersebut adalah seorang penjual beras yang tidak tahu bahwa di balik kaca truk itu adalah Sultan Hamengkubuwono IX. Penjual beras tersebut menginjak-injak tak sadar dan akhirnya pingsan.
Keesokan harinya, Sri Sultan mendengar kejadian itu dan langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk penjual beras tersebut. Ini adalah contoh dari kehidupannya yang sederhana sekaligus bijak di hadapan masyarakat Yogyakarta.
Kisah ini mengingatkan kita tentang pentingnya kesederhanaan dan kerendahan hati, bahkan bagi sosok yang memiliki kekayaan besar.
Dia meminta tumpangan dan dibantu membawa karung besar ke dalam truk tersebut. Namun, ketika dia ingin mendapatkan upahnya, dia ditolak oleh seorang laki-laki dengan penampilan mewah yang mengenakan jaket dan topi. "Hai, engkau ini kaya gak, engkau punya uang saku begitu? Aduh, engkau sombong!" kata tukang beras itu.
Penolakan Sri Sultan membuatnya merasa kecewa dan kemarahan datang dari dirinya. Dia berpikir bahwa karena nominal uang yang sedikit, dia ini tidak mau menerimanya. Bahkan, ketika Sri Sultan sudah pergi, dia masih marah dan mengeluh kepada orang lain.
Namun, ada orang yang menjelaskan kebenaran, yaitu sosok sesungguhnya supir truk tersebut adalah seorang penjual beras yang tidak tahu bahwa di balik kaca truk itu adalah Sultan Hamengkubuwono IX. Penjual beras tersebut menginjak-injak tak sadar dan akhirnya pingsan.
Keesokan harinya, Sri Sultan mendengar kejadian itu dan langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk penjual beras tersebut. Ini adalah contoh dari kehidupannya yang sederhana sekaligus bijak di hadapan masyarakat Yogyakarta.
Kisah ini mengingatkan kita tentang pentingnya kesederhanaan dan kerendahan hati, bahkan bagi sosok yang memiliki kekayaan besar.