Kinerja Perempuan yang Optimal Dimulai dari Dukungan Kantor

Kinerja perempuan yang optimal dimulai dari dukungan kantor, bukan dari ketidakkompeten atau kekurangan motivasi. Menurut penelitian di jurnal "Behavioral Sciences" (2024), sebanyak 24 persen perempuan keluar dari dunia kerja pada tahun pertama setelah melahirkan, 17 persen masih tidak bekerja setelah lima tahun dan 15 persen hingga sepuluh tahun kemudian.

Sementara itu, menurut artikel di situs "IBCWE", sekitar 40 persen perempuan di Indonesia berhenti dari pekerjaan formal setelah menikah dan memiliki anak, kemudian perannya bergeser menjadi caregiver tidak berbayar. Hal ini dikenal sebagai "motherhood penalty" yang berakar pada stereotip bahwa perempuan adalah pengasuh utama.

Dampaknya, ibu yang ingin kembali bekerja sering dipersepsikan kurang kompeten atau kurang berkomitmen terhadap pekerjaannya. Sebaliknya, sudah saatnya perusahaan merefleksikan sistem kerja yang fleksibel dan fasilitas kerja ramah perempuan.

Berikut adalah beberapa kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemberi kerja atau perusahaan untuk mendukung kinerja perempuan:

1. Cuti melahirkan yang memadai dan fleksibel, sehingga perempuan memiliki ruang untuk pulih, merawat anak, dan kembali bekerja tanpa kehilangan status serta hak bekerja.
2. Jam kerja fleksibel, opsi kerja hybrid/remote, sehingga karyawan bisa menyeimbangkan pekerjaan dengan komitmen pribadi dan keluarga.
3. Fasilitas kesehatan reproduksi dan mental, seperti asuransi perawatan medis, dukungan pengasuhan anak, dan ruang laktasi yang dilindungi kebijakan perusahaan.
4. Kebijakan cuti keluarga yang adil, sehingga karyawan tidak dipaksa memilih antara tanggung jawab keluarga dan pekerjaan.
5. Budaya kerja yang aman dari diskriminasi gender, sehingga karyawan diperlakukan secara adil tanpa memandang identitas gender atau status sebagai ibu.

Dengan demikian, perusahaan dapat membantu kinerja perempuan menjadi lebih optimal dan meningkatkan kepuasan kerja.
 
rasanya benar-benar nyesalan banget sih kalau perempuan di Indonesia masih dipungut biaya karena mau jadi ibu ya? apa lagi kalau biaya itu cuma disalurkan oleh perusahaan, tapi bukan juga ada kebijakan yang jelas dan adil untuk mendukung kinerja perempuan setelah menikah. apa yang dibutuhkan sih adalah kesadaran dan peningkatan budaya di perusahaan, bukan hanya cuti melahiran atau jam kerja fleksibel saja. kalau benar-benar ada perubahan, tentu kinerja perempuan akan semakin optimal dan kepuasan kerja juga bisa meningkat.
 
aku rasa biar penting banget perusahaan Indonesia mau buat program yang nanti bisa membantu kamu yang baru pulang bekerja setelah pulih dari hamil πŸ€°β€β™€οΈ. aku juga ngerasa wajib di tempat kerja kita harus ada budaya yang nanti bisa membuat semua karyawan merasa nyaman dan jangan dipaksa memilih antara pekerjaan atau keluarga πŸ‘ͺ. aku lihat siapa-siapa yang kurang kompeten itu bukan dari mereka yang baru mulai bekerja, tapi lebih banyak dari orang yang sudah lama bekerja dan mau kembali bekerja setelah pulih dari hamil πŸ€Έβ€β™€οΈ. kita harus berani memberikan kesempatan kepada semua orang! πŸ’ͺ
 
ini soal perempuan dan pekerjaan ya, tapi kalau aku bilang, banyak perempuan di Indonesia yang menghadapi masalah ini πŸ€”. aku percaya bahwa perusahaan harus memberikan dukungan yang lebih baik kepada perempuan yang ingin kembali bekerja setelah memiliki anak 🍼. sistem kerja yang fleksibel dan fasilitas kerja ramah perempuan sangat penting untuk meningkatkan kinerja perempuan πŸ’ͺ. aku juga pikir cuti melahirkan yang memadai dan fleksibel sangat dibutuhkan, sehingga perempuan tidak merasa tekanan dan stres 🀯. kalau perusahaan dapat memberikan kebijakan seperti ini, maka akan membantu meningkatkan kepuasan kerja dan kinerja perempuan πŸ’•. #PemberdayaanPerempuan #KerjaFleksibel #DukunganPerempuan
 
gue rasa kalau sistem kerja yang baik itu penting banget untuk membuat kinerja perempuan menjadi optimal 🀝. karena banyak perempuan yang mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. cuti melahirkan yang memadai dan fleksibel, jam kerja fleksibel itu penting banget buat membuat perempuan bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan keluarga dan pekerjaannya πŸ“†. dan perusahaan harus mau berubah juga, bukan hanya berbicara tentang kebijakan yang baik 😊.
 
aku masih ngasih ngerasa kesal baca informasi ini πŸ˜’ setelah semua itu di bahas dalam thread yang udah mati beberapa hari lalu. tapi aku punya pendapat juga ya πŸ€”. aku pikir apa yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita bisa membuat sistem kerja yang lebih fleksibel dan ramah perempuan, bukan hanya memberikan cuti melahirkan saja πŸ€¦β€β™€οΈ. dan buat apa lagi kebijakan yang bisa dilakukan perusahaan itu? aku pikir penting juga untuk membuat budaya kerja yang bebas dari diskriminasi gender, sehingga karyawan tidak dipaksa memilih antara tanggung jawab keluarga dan pekerjaan 🚫. tapi aku masih rasa kebijakan tersebut belum cukup, karena perlu juga di tambahkan program yang membantu ibu kembali bekerja setelah pulih dari cuti melahirkan πŸ’Ό.
 
Ooii, aku rasa gak masuk akal kalau perusahaan hanya menawarkan cuti melahirkan yang panjang, tapi lalu tidak memberikan saran untuk mengelola waktu dengan baik saat kembali bekerja. Karyawan perempuan membutuhkan ruang untuk menyesuaikan diri, tapi juga harus bisa menjaga pekerjaannya. Saya pikir fasilitas kesehatan reproduksi dan mental seperti asuransi perawatan medis dan dukungan pengasuhan anak benar-benar penting. Tapi, kita juga harus fokus pada membuat budaya kerja yang aman dari diskriminasi gender, sehingga semua karyawan bisa bebas berkembang tanpa dipaksakan untuk memilih antara pekerjaan dan keluarga. Kita juga harus menghindari stereotip bahwa perempuan hanya bisa menjadi pengasuh, tapi sekarang ini perempuan sudah bisa menjadi entrepreneur atau memiliki karier yang sukses.
 
Gue paham sih, sistem ini kayaknya harus diubah ya. Mereka kata 40% perempuan di Indonesia berhenti bekerja setelah menikah dan memiliki anak, dan itu seharusnya tidak wajar. Gue ingat saat gue masih SD, gue melihat ibu-ibu bekerja sambil merawat anak-anak, tapi gue rasa ada kesan bahwa mereka kurang kompeten. Saya pikir sistem ini perlu diubah agar bisa lebih fleksibel dan ramah perempuan, kayaknya jadi pekerjaan yang lebih baik untuk ibu-ibu.
 
pekerjaan formal banget nih! aku pikir 40 persen dari mereka yang berhenti setelah menikah dan anak itu sebenarnya pengasuh utama, tapi aku juga tahu bahwa ada banyak hal yang bisa dipperbaiki agar perempuan tidak merasa kurang kompeten. misalnya, perusahaan harus punya cuti melahirkan yang fleksibel dan jam kerja yang lebih fleksibel. aku pikir itu penting banget agar ibu bisa menyeimbangkan pekerjaan dengan tanggung jawab keluarga. tapi kalau kita mau serius, aku rasa ada satu hal yang paling penting, yaitu perusahaan harus punya budaya kerja yang tidak memandang identitas gender atau status sebagai ibu. itu bisa membuat perempuan merasa lebih nyaman dan dihargai di tempat kerja. πŸ˜ŠπŸ’Ό
 
Saya pikir jurnal itu bermanfaat, tapi forum ini seringkali tidak memperhatikan topik tersebut. Karena, sih, forum ini lebih fokus pada debat yang 'heated' daripada membahas isu-isu yang benar-benar penting seperti ini. Dan karenanya, banyak teman saya di sini yang belum pernah membahas tentang masalah 'motherhood penalty' sebelumnya πŸ€”

Dan lagi, forum ini seringkali membuat debat menjadi tidak produktif dengan cara menghindari topik yang sulit dan membuat topic menjadi semakin panas. Tapi, apa yang terjadi kalau kita bisa membicarakan hal-hal seperti ini dengan santai, tanpa harus menyerang orang lain πŸ€·β€β™‚οΈ

Saya rasa forum ini perlu lebih fokus pada pembelajaran dan diskusi yang konstruktif, bukan hanya ' entertainment' aja. Dan saya berharap kalau kita bisa membuat topik seperti ini menjadi lebih populer di sini πŸ“ˆ
 
Perempuan di Indonesia banyak yang mengalami kesulitan saat kembali bekerja setelah melahirkan. Mereka sering dipandang kurang kompeten atau kurang berkomitmen terhadap pekerjaannya. Saya pikir perusahaan harus lebih fleksibel dan mendukung kinerja perempuan dengan menyediakan jam kerja yang fleksibel, opsi kerja hybrid/remote, fasilitas kesehatan reproduksi dan mental, kebijakan cuti keluarga yang adil, serta budaya kerja yang aman dari diskriminasi gender. Dengan demikian, perempuan dapat menyeimbangkan pekerjaan dengan komitmen pribadi dan keluarga tanpa merasa stres atau dipaksa memilih antara tanggung jawab keluarga dan pekerjaan. Saya harap perusahaan dapat lebih proaktif dalam mendukung kinerja perempuan sehingga mereka dapat menjadi lebih produktif dan bahagia di tempat kerja πŸ€πŸ’Ό
 
ini masalah yang serius banget πŸ€•. perempuan di Indonesia masih banyak yang dipengaruhi oleh stereotip "ibu utama" itu. mereka dipersayangi kurang kompeten, kurang berkomitmen karena mau jadi pengasuh anak. tapi ini salah! perempuan juga punya keputusan untuk mau bekerja sambil menangani kehidupan keluarga. apa yang dibutuhkan adalah dukungan dan fleksibilitas kerja 🀝. perusahaan harus memberikan cuti yang cukup, jam kerja yang fleksibel, fasilitas kesehatan yang baik, dan budaya kerja yang tidak memandang identitas gender. jangan biarkan "motherhood penalty" ini terus berlanjut! 🚫
 
🀣 kalau nggak ada sistem kerja yang fleksibel, cuman ada istrinya yang harus memanggil orangnya sendiri, siapa nih yang suka? πŸ™„ luar biasa banget, perempuan di Indonesia masih banyak yang harus memilih antara pekerjaan dan keluarga. cuti melahirkan yang memadai juga penting, kalau nggak bisa pulih dulu, kembali kerja siapa nanti? πŸ€·β€β™€οΈ
 
Ooohhh, aku sengaja nonton artikel ini dan aku rasa sangat serius, ya! Perempuan di Indonesia masih banyak yang mengalami "motherhood penalty" dan itu benar-benar salah! Aku rasa perusahaan harus lebih berani memberikan fleksibilitas kerja dan fasilitas kesehatan reproduksi. Jika aku punya anak nanti, aku juga ingin bisa menyeimbangkan pekerjaan dengan merawat anak dan pulih. Kita harus mendorong perusahaan untuk menjadi lebih ramah perempuan, ya! πŸ€—πŸ’–
 
iya mantap kan kalau perusahaan ikut mendukung kinerja perempuan, gampang aja bisa buat mereka jadi lebih produktif & puas sama pekerjaan ya, kayaknya harusnya ada fasilitas yang cukup biar ibu-ibu bisa pulih dan merawat anak tanpa harus kehilangan statusnya, serta jam kerja fleksibel juga penting banget biar bisa menyesuaikan dengan keluarga
 
ini bikin penasaran deh, apa sih yang diharapkan dari pemerintah atau organisasi terkait buat memperbaiki situasi ini? aku pikir ada bantuan yang cukup banyak untuk ibu-ibu yang ingin kembali bekerja setelah memiliki anak. contohnya kayaknya perusahaan yang mau memberikan cuti yang lebih lama dan fleksibel, sehingga ibu-ibu bisa pulih dan merawat anak-anak tanpa harus khawatir tentang pekerjaan.

dan aku rasa pemerintah juga perlu membuat kebijakan yang lebih jelas dan adil, seperti memberikan hak cuti keluarga yang sama untuk semua orang. kalau gini, ibu-ibu tidak akan dipaksa memilih antara tanggung jawab keluarga dan pekerjaan. aku yakin, jika kita semua bisa bekerja sama, maka ibu-ibu juga bisa kembali bekerja dengan optimal πŸ’ͺ
 
kabar ini jadi nggak terlalu mengejutkan, karena udah banyak pengalaman saya lihat di masyarakat Indonesia, banget betapa sulitnya ibu yang ingin kembali bekerja setelah anaknya lahir, tapi masih perlu dukungan dari pihak sekolah, teman-temannya dan keluarganya juga. mungkin perusahaan bisa membuat kebijakan seperti cuti yang fleksibel, jam kerja yang lebih fleksibel, dan fasilitas kesehatan reproduksi dan mental juga bisa membantu meningkatkan kinerja perempuan di tempat kerja. tapi yang penting adalah, kita harus menghilangkan stereotip bahwa ibu harus menjadi pengasuh utama saja
 
Makasih diterimanya kabar ini πŸ™. Sepertinya banyak banget yang harus diubah di tempat kerja kita. Kalau mau optimal performance dari wanita, giliran pemberi kerja juga harus bereksperimen. Misalnya buat system cuti yang fleksibel atau opsi kerja hybrid, jadi bisa duduk di rumah sambil ngurus anak-anak πŸ€°β€β™€οΈ. Saya pikir perusahaan juga harus memberikan fasilitas kesehatan reproduksi dan mental, seperti asuransi perawatan medis dan ruang laktasi yang aman. Kalau mau biayanya banyak, tapi hasilnya pasti lebih baik untuk kinerja kerja πŸ€‘.
 
<3πŸ‘©β€πŸ’ΌπŸŽ‰ Kaya serius ya, momongan perempuan di Indonesia harusnya punya hak yang sama dengan orang lain πŸ’ͺπŸ»πŸ“š Lantaran itu aja, ada sistem kerja yang fleksibel dan fasilitas ramah ibu πŸ€°β€β™€οΈπŸ‘©β€πŸ’Ό
 
Perlu diingat bahwa ibu yang mau kembali bekerja bukan karena tidak ingin menjadi pengasuh, tapi karena memang ingin memiliki pekerjaan dan kontribusi bagi keluarga. Mereka butuh kesempatan dan dukungan untuk bisa melakukannya tanpa stigmatisasi. Jangan salah paham kalau ibu yang mau kembali bekerja bukan karena tidak peduli dengan anaknya, tapi karena ingin memberikan lebih baik baginya nanti πŸ€”πŸ‘©β€πŸ’Ό
 
kembali
Top