Pinjaman Berat dari Bio Farma, Kimia Farma Jelajahi 846 Miliar untuk Mengatasi Keterbatasan Modal
PT Kimia Farma Tbk (KAEF), salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, telah menandatangani perjanjian pinjaman pemegang saham (SHL) dengan induk usahanya, PT Bio Farma (Persero), senilai Rp846 miliar. Proses ini diharapkan dapat membantu KAEF mengatasi keterbatasan modal kerja dan menjaga stabilitas keuangan.
Menurut manajemen Kimia Farma, pinjaman SHL ini diperlukan karena tantangan pengelolaan modal kerja yang dialami oleh perusahaan. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan suku bunga pinjaman yang membuat sulit bagi KAEF untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas.
Untuk mengatasi masalah ini, KAEF telah melakukan rencana restrukturisasi perusahaan (RRP) untuk meningkatkan stabilitas keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis. Selain itu, perusahaan juga melakukan serangkaian strategi untuk menunjang transformasi secara berkelanjutan di seluruh lini bisnis.
Dengan pinjaman SHL ini, KAEF dapat memperoleh dana kas untuk pemenuhan modal kerja, pelunasan kewajiban operasional, dan kebutuhan lainnya untuk keberlangsungan jangka pendek. Beberapa di antara kebutuhan tersebut termasuk memenuhi core operasional yang berdampak langsung pada produksi dan penjualan, serta memenuhi kebutuhan pembayaran terkait regulasi.
Pinjaman SHL ini merupakan bagian dari upaya KAEF untuk meningkatkan stabilitas keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis. Dengan demikian, perusahaan farmasi tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitas layanan yang ditawarkan kepada konsumen.
PT Kimia Farma Tbk (KAEF), salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, telah menandatangani perjanjian pinjaman pemegang saham (SHL) dengan induk usahanya, PT Bio Farma (Persero), senilai Rp846 miliar. Proses ini diharapkan dapat membantu KAEF mengatasi keterbatasan modal kerja dan menjaga stabilitas keuangan.
Menurut manajemen Kimia Farma, pinjaman SHL ini diperlukan karena tantangan pengelolaan modal kerja yang dialami oleh perusahaan. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan suku bunga pinjaman yang membuat sulit bagi KAEF untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas.
Untuk mengatasi masalah ini, KAEF telah melakukan rencana restrukturisasi perusahaan (RRP) untuk meningkatkan stabilitas keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis. Selain itu, perusahaan juga melakukan serangkaian strategi untuk menunjang transformasi secara berkelanjutan di seluruh lini bisnis.
Dengan pinjaman SHL ini, KAEF dapat memperoleh dana kas untuk pemenuhan modal kerja, pelunasan kewajiban operasional, dan kebutuhan lainnya untuk keberlangsungan jangka pendek. Beberapa di antara kebutuhan tersebut termasuk memenuhi core operasional yang berdampak langsung pada produksi dan penjualan, serta memenuhi kebutuhan pembayaran terkait regulasi.
Pinjaman SHL ini merupakan bagian dari upaya KAEF untuk meningkatkan stabilitas keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis. Dengan demikian, perusahaan farmasi tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitas layanan yang ditawarkan kepada konsumen.