Ketua MPR Ahmad Muzani kembali mengingatkan pentingnya peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam menyelamatkan ideologi negara Indonesia saat diancam oleh paham komunisme. Pada acara peringatan hari lahir ke-100 tahun NU yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta Pusat pada Sabtu lalu, Muzani mengatakan bahwa ketika itu, NU tampil kembali menyelamatkan ideologi negara dari bahaya komunisme.
Menurutnya, ketika pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terjadi di Madiun pada 1948 silam, NU menjadi korban. Banyak kiai-kiai dan pondok pesantren NU yang menjadi korban saat itu. Namun, mereka tetap berani untuk tampil menyelamatkan negara dari bahaya komunisme.
Muzani juga mengingatkan bahwa NU telah memberikan banyak kontribusi pada masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat angkatan bersenjata belum memiliki kekuatan besar, NU-lah yang membantu upaya kemerdekaan. Mereka melalui Gerakan Pemuda (GP) Ansor hingga Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang berperan sebagai organisasi paramiliter.
Selain itu, setelah proklamasi kemerdekaan, kontribusi NU dalam menjaga kemerdekaan juga dilakukan dengan cara ikut melawan kehadiran tentara Inggris dan Belanda yang tiba di Surabaya pada November 1945 silam. Ulama besar pendiri NU pada saat itu langsung mengeluarkan fatwa agar kaum Nahdliyin ikut angkat senjata mengusir pihak penjajah.
Dengan demikian, Muzani berharap agar NU dapat terus memberikan kontribusi bagi negara dan bangsa Indonesia. "Fatwa jihad keluar dari Hadratussyaikh, membela Tanah Air bagian dari kewajiban seluruh santri NU. Maka seluruh santri NU bersatu di desa, di kota, laki-laki, perempuan, mengasah senjata, mengangkat bambu runcing untuk mengusir penjajah," ucapnya.
Menurutnya, ketika pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) terjadi di Madiun pada 1948 silam, NU menjadi korban. Banyak kiai-kiai dan pondok pesantren NU yang menjadi korban saat itu. Namun, mereka tetap berani untuk tampil menyelamatkan negara dari bahaya komunisme.
Muzani juga mengingatkan bahwa NU telah memberikan banyak kontribusi pada masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat angkatan bersenjata belum memiliki kekuatan besar, NU-lah yang membantu upaya kemerdekaan. Mereka melalui Gerakan Pemuda (GP) Ansor hingga Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang berperan sebagai organisasi paramiliter.
Selain itu, setelah proklamasi kemerdekaan, kontribusi NU dalam menjaga kemerdekaan juga dilakukan dengan cara ikut melawan kehadiran tentara Inggris dan Belanda yang tiba di Surabaya pada November 1945 silam. Ulama besar pendiri NU pada saat itu langsung mengeluarkan fatwa agar kaum Nahdliyin ikut angkat senjata mengusir pihak penjajah.
Dengan demikian, Muzani berharap agar NU dapat terus memberikan kontribusi bagi negara dan bangsa Indonesia. "Fatwa jihad keluar dari Hadratussyaikh, membela Tanah Air bagian dari kewajiban seluruh santri NU. Maka seluruh santri NU bersatu di desa, di kota, laki-laki, perempuan, mengasah senjata, mengangkat bambu runcing untuk mengusir penjajah," ucapnya.