Pasar saham Asia kembali melemah hari Senin (19/1/2025) karena investor mencermati ketegangan geopolitik baru yang melibatkan Amerika Serikat dan Eropa terkait wilayah Greenland. Mayoritas pasar di sepanjang kawasan ini mengalami penurunan, sementara beberapa indeks terkena dampak paling berat.
Dalam perdebatan terkait arus utama di kawasan tersebut, pihak Amerika Serikat mendesak agar Eropa tidak membagi wilayah Greenland yang merupakan bagian dari Denmark. Namun, para pemimpin Eropa menganggap ancaman tersebut sebagai tindakan yang "sepenuhnya salah" dan "tidak dapat diterima".
Kekurangan kepercayaan investor pada kawasan ini mencerminkan ketegangan geopolitik baru tersebut. Bursa Asia dibuka melemah dengan beberapa indeks mengalami penurunan, seperti indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,85% dan menjadi yang terburuk di Asia.
Sementara itu, pasar saham Hong Kong juga mengalami penurunan, dengan kontrak berjangka indeks Hang Seng tercatat di level 26.640, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks Hang Seng di 26.844,96.
Pasar komoditas juga terpengaruh oleh ketegangan geopolitik baru tersebut. Harga perak dan emas spot mencetak rekor tertinggi, dengan perak melonjak lebih dari 4,17% ke level US$93,7 per ons, sementara emas terakhir menguat 1,8% ke posisi US$4.676,94 per ons.
Namun, tidak semua pasar saham di Asia melemah, seperti pasar saham Korea Selatan yang bergerak berlawanan arah dengan mayoritas bursa. Indeks Kospi naik 0,18%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq terkoreksi 0,15%.
Dalam konteks ekonomi, investor juga menanti rilis sejumlah data ekonomi penting dari China, yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar saham di Asia.
Dalam perdebatan terkait arus utama di kawasan tersebut, pihak Amerika Serikat mendesak agar Eropa tidak membagi wilayah Greenland yang merupakan bagian dari Denmark. Namun, para pemimpin Eropa menganggap ancaman tersebut sebagai tindakan yang "sepenuhnya salah" dan "tidak dapat diterima".
Kekurangan kepercayaan investor pada kawasan ini mencerminkan ketegangan geopolitik baru tersebut. Bursa Asia dibuka melemah dengan beberapa indeks mengalami penurunan, seperti indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,85% dan menjadi yang terburuk di Asia.
Sementara itu, pasar saham Hong Kong juga mengalami penurunan, dengan kontrak berjangka indeks Hang Seng tercatat di level 26.640, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks Hang Seng di 26.844,96.
Pasar komoditas juga terpengaruh oleh ketegangan geopolitik baru tersebut. Harga perak dan emas spot mencetak rekor tertinggi, dengan perak melonjak lebih dari 4,17% ke level US$93,7 per ons, sementara emas terakhir menguat 1,8% ke posisi US$4.676,94 per ons.
Namun, tidak semua pasar saham di Asia melemah, seperti pasar saham Korea Selatan yang bergerak berlawanan arah dengan mayoritas bursa. Indeks Kospi naik 0,18%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq terkoreksi 0,15%.
Dalam konteks ekonomi, investor juga menanti rilis sejumlah data ekonomi penting dari China, yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar saham di Asia.