Kemudian, Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi harus rutin berkunjung ke sekolah penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG-nya. Hal ini untuk memastikan bahwa jumlah penerima manfaat MBG yang riil dari dapur mereka sendiri, serta melihat perkembangan anak-anak penerima manfaat.
Dalam acara Koordinasi dan Evaluasi bersama Forkompimda, Kasatpel, Yayasan, Mitra, Korwil, dan seluruh Kepala SPPG di Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu, 24 Januari 2026. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas hadir dalam acara itu.
Tidak hanya berkoordinasi dengan para guru, tetapi Kepala SPPG juga harus langsung mendata dan memastikan kebenaran jumlah penerima manfaat MBG yang riil. Hal ini sangat penting untuk mengetahui kinerja SPPG secara langsung di lapangan.
Dalam video viral tentang SDN 1 Batuporo Timur, di Dusun Pandiyan, Desa Batuporo Timur, Kecamatan Kedungdung, Sampang, Madura, Jawa Timur, disebutkan bahwa sekolah itu menerima jatah MBG sebanyak 63 porsi, meskipun tidak ada aktivitas KBM karena tidak memiliki siswa. Parahnya lagi, salah satu ruang kelas di sekolah itu dipakai untuk berkaraoke.
Hasil temuan sementara, sekolah itu semula memiliki 12 orang siswa laki-laki, dan 21 orang siswa perempuan, sementara guru yang mengajar mereka sebanyak 7 orang. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, para siswa kemudian memilih belajar di Madrasah, dan hanya pada hari Jumat datang ke sekolah itu.
Munculnya berita viral tentang sekolah kosong itu menimbulkan asumsi bahwa BGN lemah dalam hal data. Padahal, jarak SPPG dengan sekolah itu hanya berjarak sekitar 10 menit. Tapi karena Kepala SPPG tidak pernah datang ke sekolah itu, sementara jatah MBG tidak langsung diantarkan ke sekolah dengan alasan lewat pekarangan warga, akhirnya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Karena itulah, Ketua Harian Tim Koordinasi Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis itu mewajibkan para kepala SPPG untuk datang ke sekolah-sekolah penerima manfaat dari SPPGnya, maupun ke posyandu, untuk berkoordinasi, dan mendapatkan data yang paling up to date. Jangan sampai terulang kasus seperti yang di Madura itu.
Dalam acara Koordinasi dan Evaluasi bersama Forkompimda, Kasatpel, Yayasan, Mitra, Korwil, dan seluruh Kepala SPPG di Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu, 24 Januari 2026. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas hadir dalam acara itu.
Tidak hanya berkoordinasi dengan para guru, tetapi Kepala SPPG juga harus langsung mendata dan memastikan kebenaran jumlah penerima manfaat MBG yang riil. Hal ini sangat penting untuk mengetahui kinerja SPPG secara langsung di lapangan.
Dalam video viral tentang SDN 1 Batuporo Timur, di Dusun Pandiyan, Desa Batuporo Timur, Kecamatan Kedungdung, Sampang, Madura, Jawa Timur, disebutkan bahwa sekolah itu menerima jatah MBG sebanyak 63 porsi, meskipun tidak ada aktivitas KBM karena tidak memiliki siswa. Parahnya lagi, salah satu ruang kelas di sekolah itu dipakai untuk berkaraoke.
Hasil temuan sementara, sekolah itu semula memiliki 12 orang siswa laki-laki, dan 21 orang siswa perempuan, sementara guru yang mengajar mereka sebanyak 7 orang. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, para siswa kemudian memilih belajar di Madrasah, dan hanya pada hari Jumat datang ke sekolah itu.
Munculnya berita viral tentang sekolah kosong itu menimbulkan asumsi bahwa BGN lemah dalam hal data. Padahal, jarak SPPG dengan sekolah itu hanya berjarak sekitar 10 menit. Tapi karena Kepala SPPG tidak pernah datang ke sekolah itu, sementara jatah MBG tidak langsung diantarkan ke sekolah dengan alasan lewat pekarangan warga, akhirnya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Karena itulah, Ketua Harian Tim Koordinasi Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis itu mewajibkan para kepala SPPG untuk datang ke sekolah-sekolah penerima manfaat dari SPPGnya, maupun ke posyandu, untuk berkoordinasi, dan mendapatkan data yang paling up to date. Jangan sampai terulang kasus seperti yang di Madura itu.