Kemlu Tanggapi Kritik Dino Patti Djalal, Indonesia Jangan Fokus Pada Retorika
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengeluarkan pernyataan terkait kritik Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Dino sempat mengutuk pernyataan resmi Kemlu, mengatakan bahwa AS dalam pernyataannya "sangat standar" dan menyebutkan bahwa Kemlu tidak menyebut Amerika Serikat secara langsung.
Kemlu yang dipimpin oleh Yvonne Mewengkang, Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri RI, menegaskan bahwa mereka tidak akan fokus pada retorika yang berpotensi memperkeruh situasi di Venezuela. Sebaliknya, mereka akan berfokus untuk mendorong penghormatan hukum internasional dan prinsip universal Piagam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Indonesia memilih menyampaikan sikap berdasarkan penghormatan pada hukum internasional, prinsip universal Piagam PBB, dan hukum humaniter internasional, bukan pada retorika yang dapat memperkeruh situasi, sambil kita terus mendorong upaya-upaya deeskalasi, dialog dan perlindungan warga sipil," kata Yvonne dalam konferensi pers.
Yvonne juga menyampaikan bahwa Indonesia telah menyampaikan rasa prihatinnya terhadap segala tindakan yang melibatkan ancaman atau penggunaan kekerasan saat AS menculik Presiden Maduro. Kemlu berisiko menciptakan preseden yang berbahaya dan mengganggu stabilitas.
Sementara itu, Dino Patti Djalal mempertanyakan mengapa Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono tidak bersuara mengenai dinamika situasi di Venezuela. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap dan berani berpendirian, seperti ketika Indonesia menentang invasi AS terhadap Irak.
Kemlu RI tetap fokus pada mendorong penghormatan hukum internasional dan prinsip universal Piagam PBB, bukan pada retorika yang dapat memperkeruh situasi.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengeluarkan pernyataan terkait kritik Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Dino sempat mengutuk pernyataan resmi Kemlu, mengatakan bahwa AS dalam pernyataannya "sangat standar" dan menyebutkan bahwa Kemlu tidak menyebut Amerika Serikat secara langsung.
Kemlu yang dipimpin oleh Yvonne Mewengkang, Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri RI, menegaskan bahwa mereka tidak akan fokus pada retorika yang berpotensi memperkeruh situasi di Venezuela. Sebaliknya, mereka akan berfokus untuk mendorong penghormatan hukum internasional dan prinsip universal Piagam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Indonesia memilih menyampaikan sikap berdasarkan penghormatan pada hukum internasional, prinsip universal Piagam PBB, dan hukum humaniter internasional, bukan pada retorika yang dapat memperkeruh situasi, sambil kita terus mendorong upaya-upaya deeskalasi, dialog dan perlindungan warga sipil," kata Yvonne dalam konferensi pers.
Yvonne juga menyampaikan bahwa Indonesia telah menyampaikan rasa prihatinnya terhadap segala tindakan yang melibatkan ancaman atau penggunaan kekerasan saat AS menculik Presiden Maduro. Kemlu berisiko menciptakan preseden yang berbahaya dan mengganggu stabilitas.
Sementara itu, Dino Patti Djalal mempertanyakan mengapa Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono tidak bersuara mengenai dinamika situasi di Venezuela. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap dan berani berpendirian, seperti ketika Indonesia menentang invasi AS terhadap Irak.
Kemlu RI tetap fokus pada mendorong penghormatan hukum internasional dan prinsip universal Piagam PBB, bukan pada retorika yang dapat memperkeruh situasi.