Rupiah Terus Memburkan, Tetap Terendalai oleh Dolar AS. Pada akhir pekan ini, rupiah terus memburuk hingga menutup di level Rp16.786 per dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar ini diperoleh dari perdagangan Jumat lalu, ketika rupiah ditutup hanya 0,19 persen melemah dari posisi sebelumnya. Rupiah terus memburuk di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan sentimen negatif yang muncul karena perubahan pemimpin Bank Sentral AS.
Terseringet mata uang Jepang dengan nilai tukar Rp154,02 per dolar AS. Kondisi ini memicu penurunan rupiah dan beberapa mata uang lainnya di kawasan Asia Pasifik. Pada perdagangan Jumat lalu, won Korea Selatan turun 6,50 poin atau 0,45 persen menjadi Rp1.440,59 per dolar AS. Sedangkan ringgit Malaysia melemah hanya sebesar 0,02 poin atau 0,45 persen ke level Rp3.95 per dolar AS.
Baht Thailand menjadi mata uang yang paling terkena dampak dengan penurunan 0,41 persen hingga menutup di Rp31,36 per dolar AS. Dolar Taiwan turun 0,12 poin atau 0,39 persen untuk mencapai Rp31,46 per dolar AS. Sementara itu, dolar Singapura melemah sebesar 0,20 persen menjadi Rp1,27 per dolar AS.
Pengamat pasar uang mengatakan bahwa pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan sentimen negatif yang muncul karena perubahan pemimpin Bank Sentral AS. Hal ini menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.
Terseringet mata uang Jepang dengan nilai tukar Rp154,02 per dolar AS. Kondisi ini memicu penurunan rupiah dan beberapa mata uang lainnya di kawasan Asia Pasifik. Pada perdagangan Jumat lalu, won Korea Selatan turun 6,50 poin atau 0,45 persen menjadi Rp1.440,59 per dolar AS. Sedangkan ringgit Malaysia melemah hanya sebesar 0,02 poin atau 0,45 persen ke level Rp3.95 per dolar AS.
Baht Thailand menjadi mata uang yang paling terkena dampak dengan penurunan 0,41 persen hingga menutup di Rp31,36 per dolar AS. Dolar Taiwan turun 0,12 poin atau 0,39 persen untuk mencapai Rp31,46 per dolar AS. Sementara itu, dolar Singapura melemah sebesar 0,20 persen menjadi Rp1,27 per dolar AS.
Pengamat pasar uang mengatakan bahwa pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan sentimen negatif yang muncul karena perubahan pemimpin Bank Sentral AS. Hal ini menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.