Warga Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat mulai menggunakan kayu gelondongan yang terendapkan tanah longsor sebagai material pembangunan rumah hunian tetap. Pemerintah telah mengidentifikasi kayu-kayu ini memiliki potensi untuk digunakan dalam pembangunan kembali infrastruktur di wilayah-wilayah yang terdampak bencana.
Menurut Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri dan Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, pemanfaatan kayu gelondongan ini harus dilakukan secara strategis dan sesuai prosedur. "Cuma prosedurnya jangan sampai melanggar. Jangan sampai nanti dipotong-potong, terus dijual untuk komersial," katanya.
Warga sudah memanfaatkan kayu gelondongan ini untuk membangun kembali rumah yang rusak dan juga untuk memperbaiki berbagai fasilitas publik yang rusak. "Saya sudah melihat sendiri di Langkahan, yang banyak kayu-kayu itu, sudah banyak dipakai masyarakat untuk ada yang memperbaiki rumahnya, dipotong-potong," ujar Tito.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan lumpur-lumpur mengendap di lokasi-lokasi terdampak bencana untuk digunakan sebagai tanggul di pinggir sungai. Ini bertujuan untuk mencegah air sungai tidak meluap ke area permukiman warga apabila terjadi cuaca ekstrem.
Sejarahnya, Tito sudah melihat langsung pemanfaatan kayu gelondongan ini secara langsung saat ia berkunjung ke Langkahan, Aceh Utara. "Saya sudah melihat sendiri di Langkahan, yang banyak kayu-kayu itu, sudah banyak dipakai masyarakat untuk ada yang memperbaiki rumahnya, dipotong-potong," katanya.
Proyek ini bertujuan untuk membantu warga Aceh dan Sumatera Utara mengatasi dampak bencana yang telah menyebabkan kerusakan infrastruktur di wilayah-wilayah tersebut. Dengan demikian, pemerintah berharap dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah-daerah tersebut.
Menurut Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri dan Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, pemanfaatan kayu gelondongan ini harus dilakukan secara strategis dan sesuai prosedur. "Cuma prosedurnya jangan sampai melanggar. Jangan sampai nanti dipotong-potong, terus dijual untuk komersial," katanya.
Warga sudah memanfaatkan kayu gelondongan ini untuk membangun kembali rumah yang rusak dan juga untuk memperbaiki berbagai fasilitas publik yang rusak. "Saya sudah melihat sendiri di Langkahan, yang banyak kayu-kayu itu, sudah banyak dipakai masyarakat untuk ada yang memperbaiki rumahnya, dipotong-potong," ujar Tito.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan lumpur-lumpur mengendap di lokasi-lokasi terdampak bencana untuk digunakan sebagai tanggul di pinggir sungai. Ini bertujuan untuk mencegah air sungai tidak meluap ke area permukiman warga apabila terjadi cuaca ekstrem.
Sejarahnya, Tito sudah melihat langsung pemanfaatan kayu gelondongan ini secara langsung saat ia berkunjung ke Langkahan, Aceh Utara. "Saya sudah melihat sendiri di Langkahan, yang banyak kayu-kayu itu, sudah banyak dipakai masyarakat untuk ada yang memperbaiki rumahnya, dipotong-potong," katanya.
Proyek ini bertujuan untuk membantu warga Aceh dan Sumatera Utara mengatasi dampak bencana yang telah menyebabkan kerusakan infrastruktur di wilayah-wilayah tersebut. Dengan demikian, pemerintah berharap dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah-daerah tersebut.