Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menantunya Jared Kushner di acara peresmian piagam Board of Peace ternyata menyebabkan ketegangan di kalangan rakyat Palestina. Mereka merasa bahwa rencana "New Gaza" yang dikembangkan oleh Kushner adalah simbol politis yang mengabaikan kebutuhan dan penderitaan mereka.
Mengenai konsep "New Gaza", Jared Kushner menunjukkan gambar-gambar pembangunan kembali wilayah Gaza, termasuk pembangunan kota Rafah dengan biaya hingga 30 miliar dolar AS. Namun, rakyat Palestina merasa bahwa ini hanya janji-janji yang tidak ada akibatnya.
"Setiap kali mereka mengumumkan sesuatu mengenai rakyat Palestina, penderitaan kami hanya meningkat," kata seorang ibu pengungsi, Manal al-Qouqa. Dia menyebutkan bahwa klaim adanya perdamaian dan bantuan besar-besaran yang diucapkan Trump jauh dari kenyataan sehari-hari.
Rakyat Palestina juga merasa tidak ada perwakilan mereka dalam struktur utama Board of Peace, padahal tokoh-tokoh kontroversial seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin masuk sebagai anggota. Warga Palestina memandang Board of Peace sebagai simbol politik dan alat legitimasi bagi Trump dan Netanyahu.
Mereka juga menyuarakan keraguan besar terhadap janji keamanan dan pembangunan yang menjadi fokus utama inisiatif tersebut. "Mengenai Dewan Perdamaian dan kami, para pengungsi di kamp, tidak ada hal nyata yang membuat kami merasa bahwa sesuatu akan benar-benar diperbaiki atau penderitaan kami akan berkurang," ujarnya Suhail al-Hanawi.
Kenyataannya, kekurangan pangan, air, obat-obatan, dan kerusakan infrastruktur masih menjadi masalah akut di Gaza. Rakyat Palestina merasa bahwa tidak ada hal konkret yang membuat mereka percaya bahwa inisiatif ini akan memperbaiki hidup atau mengurangi penderitaan mereka.
Pertemuan Trump dengan rakyat Palestina justru meningkatkan penderitaan mereka, bukan menurunkannya. Oleh karena itu, para pengungsi di kamp tersebut sangat meragukan keabsahan inisiatif Board of Peace yang diklaim akan membantu rekonstruksi Gaza dan menyelesaikan konflik regional ini.
Mengenai konsep "New Gaza", Jared Kushner menunjukkan gambar-gambar pembangunan kembali wilayah Gaza, termasuk pembangunan kota Rafah dengan biaya hingga 30 miliar dolar AS. Namun, rakyat Palestina merasa bahwa ini hanya janji-janji yang tidak ada akibatnya.
"Setiap kali mereka mengumumkan sesuatu mengenai rakyat Palestina, penderitaan kami hanya meningkat," kata seorang ibu pengungsi, Manal al-Qouqa. Dia menyebutkan bahwa klaim adanya perdamaian dan bantuan besar-besaran yang diucapkan Trump jauh dari kenyataan sehari-hari.
Rakyat Palestina juga merasa tidak ada perwakilan mereka dalam struktur utama Board of Peace, padahal tokoh-tokoh kontroversial seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin masuk sebagai anggota. Warga Palestina memandang Board of Peace sebagai simbol politik dan alat legitimasi bagi Trump dan Netanyahu.
Mereka juga menyuarakan keraguan besar terhadap janji keamanan dan pembangunan yang menjadi fokus utama inisiatif tersebut. "Mengenai Dewan Perdamaian dan kami, para pengungsi di kamp, tidak ada hal nyata yang membuat kami merasa bahwa sesuatu akan benar-benar diperbaiki atau penderitaan kami akan berkurang," ujarnya Suhail al-Hanawi.
Kenyataannya, kekurangan pangan, air, obat-obatan, dan kerusakan infrastruktur masih menjadi masalah akut di Gaza. Rakyat Palestina merasa bahwa tidak ada hal konkret yang membuat mereka percaya bahwa inisiatif ini akan memperbaiki hidup atau mengurangi penderitaan mereka.
Pertemuan Trump dengan rakyat Palestina justru meningkatkan penderitaan mereka, bukan menurunkannya. Oleh karena itu, para pengungsi di kamp tersebut sangat meragukan keabsahan inisiatif Board of Peace yang diklaim akan membantu rekonstruksi Gaza dan menyelesaikan konflik regional ini.