Pengerahan kapal induk AS USS Abraham Lincoln ke wilayah Iran kembali membawa ketegangan di antara kedua negara. Menurut informasi yang diperoleh dari sumber-sumber dekat kepresidenan, gugus tempur militer AS dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln dan telah berada di dekat wilayah Iran.
Presiden Donald Trump menyangkal usaha untuk mengklarifikasikan lokasi tepatnya pengerahan armada perang ini. "Kita memiliki armada besar di sebelah Iran. Lebih besar dari [pasukan operasi] Venezuela," kata Trump kepada Axios.
Namun, setelah diluncurkan, seruan Trump untuk menyerang balik jika Iran menggunakan kekerasan eksesif terhadap para pengunjuk rasa tersebut malah membuat situasi semakin panas. Dalam beberapa minggu ini, sejumlah meningkatnya korban jiwa sejak pergantian tahun ini dan para demonstran tidak puas dengan kemudahan pemerintah Iran.
Menurut informasi yang diperoleh dari sumber-sumber dekat kepresidenan, Trump sebenarnya memiliki tujuan untuk mengakhiri rezim Ayatollah Ali Khamenei. Meski demikian, para analis menyebutkan bahwa Washington telah menerima laporan intelijen yang menunjukkan pemerintah Iran kini berada di titik terlemah sejak revolusi 1979.
Sementara itu, setelah diluncurkan, pernyataan Trump tentang penyerangan balik jika Iran menggunakan kekerasan eksesif melawan pengunjuk rasa tersebut malah membuat Iran bereaksi. Menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Iran tak segan-segan untuk "melawan dengan semua yang kami punya" jika AS menyerang.
Selain itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber dekat kepresidenan, Iran sebenarnya telah mengantisipasi serangan rudal dari AS dan Israel. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Garda Revolusi Mohammad Ali Naini.
Terlepas dari pernyataan yang semakin panas dari kedua belah pihak, Amerika Serikat masih belum mengklarifikasi apa itu yang akan terjadi jika Iran memutuskan untuk menggunakan kekerasan eksesif melawan para pengunjuk rasa.
Presiden Donald Trump menyangkal usaha untuk mengklarifikasikan lokasi tepatnya pengerahan armada perang ini. "Kita memiliki armada besar di sebelah Iran. Lebih besar dari [pasukan operasi] Venezuela," kata Trump kepada Axios.
Namun, setelah diluncurkan, seruan Trump untuk menyerang balik jika Iran menggunakan kekerasan eksesif terhadap para pengunjuk rasa tersebut malah membuat situasi semakin panas. Dalam beberapa minggu ini, sejumlah meningkatnya korban jiwa sejak pergantian tahun ini dan para demonstran tidak puas dengan kemudahan pemerintah Iran.
Menurut informasi yang diperoleh dari sumber-sumber dekat kepresidenan, Trump sebenarnya memiliki tujuan untuk mengakhiri rezim Ayatollah Ali Khamenei. Meski demikian, para analis menyebutkan bahwa Washington telah menerima laporan intelijen yang menunjukkan pemerintah Iran kini berada di titik terlemah sejak revolusi 1979.
Sementara itu, setelah diluncurkan, pernyataan Trump tentang penyerangan balik jika Iran menggunakan kekerasan eksesif melawan pengunjuk rasa tersebut malah membuat Iran bereaksi. Menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Iran tak segan-segan untuk "melawan dengan semua yang kami punya" jika AS menyerang.
Selain itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber dekat kepresidenan, Iran sebenarnya telah mengantisipasi serangan rudal dari AS dan Israel. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Garda Revolusi Mohammad Ali Naini.
Terlepas dari pernyataan yang semakin panas dari kedua belah pihak, Amerika Serikat masih belum mengklarifikasi apa itu yang akan terjadi jika Iran memutuskan untuk menggunakan kekerasan eksesif melawan para pengunjuk rasa.