Gugus Tempur AS Berpasangan di Perairan Timur Tengah, Iran Siap Balas Serangan
Kembaran kapal induk USS Abraham Lincoln dan komandan gugus tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh kapal induk tersebut telah tiba di perairan Timur Tengah. Pengerahan ini dilakukan di tengah ancaman Washington melakukan intervensi militer ke Iran.
Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa gugus tempur ini telah berada di dekat wilayah Iran dan memiliki armada besar sebelumnya, bahkan lebih besar dari pasukan operasi Venezuela. Namun, menurut CNA, lokasi tepatnya tidak dikonfirmasikan.
Pengerahan pasukan ini merupakan buntut dari unjuk rasa yang meluas di Iran. Trump terus mengutarakan ancaman intervensi militer jika Iran menggunakan kekerasan eksesif kepada para pengunjuk rasa. Namun, menurut Senator AS Lindsey Graham, tujuan Trump sekarang adalah untuk "mengakhiri rezim" Ayatollah Ali Khamenei.
Para analis juga menyebut bahwa kini Trump berpotensi menggunakan beberapa opsi intervensi ke Iran, termasuk serangan ke fasilitas militer atau serangan ke Khamenei. Namun, situasi ini menjadi serba menentu, karena publik Iran menolak perubahan rezim melalui pemaksaan pihak luar.
Di sisi lain, Trump menyebut bahwa Teheran telah berupaya untuk melakukan kontak dengan Washington, namun detail yang hendak dirundingkan belum terkonfirmasi. Apa saja upaya perundingan itu, tak membuat Trump menolak pengerahan armada perang ke kawasan Teluk.
Iran telah bersumpah akan menyerang balik pangkalan-pangkalan militer AS jika Trump memilih untuk melaksanakan intervensi militer. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis sebuah artikel opini di Wall Street Journal bahwa Iran tak segan-segan untuk "melawan dengan semua yang kami punya" jika AS menyerang.
Iran kini bahkan dilaporkan tengah bersiap untuk mengantisipasi serangan rudal dari AS dan Israel. Juru bicara Garda Revolusi Mohammad Ali Naini menyatakan bahwa Iran tak segan menyerang jika armada AS masuk ke perairan teritorial Iran.
Sementara itu, Teheran juga terus melakukan kontra-narasi terhadap pernyataan-pernyataan Washington. Sekretaris dewan keamanan nasional tertinggi Iran, Ali Larijani, menyebut bahwa pernyataan dan sikap Trump terkait negaranya merupakan upaya propaganda untuk menggambarkan "negara ini berada dalam keadaan darurat" sebagai legitimasi intervensi.
Kembaran kapal induk USS Abraham Lincoln dan komandan gugus tempur Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh kapal induk tersebut telah tiba di perairan Timur Tengah. Pengerahan ini dilakukan di tengah ancaman Washington melakukan intervensi militer ke Iran.
Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa gugus tempur ini telah berada di dekat wilayah Iran dan memiliki armada besar sebelumnya, bahkan lebih besar dari pasukan operasi Venezuela. Namun, menurut CNA, lokasi tepatnya tidak dikonfirmasikan.
Pengerahan pasukan ini merupakan buntut dari unjuk rasa yang meluas di Iran. Trump terus mengutarakan ancaman intervensi militer jika Iran menggunakan kekerasan eksesif kepada para pengunjuk rasa. Namun, menurut Senator AS Lindsey Graham, tujuan Trump sekarang adalah untuk "mengakhiri rezim" Ayatollah Ali Khamenei.
Para analis juga menyebut bahwa kini Trump berpotensi menggunakan beberapa opsi intervensi ke Iran, termasuk serangan ke fasilitas militer atau serangan ke Khamenei. Namun, situasi ini menjadi serba menentu, karena publik Iran menolak perubahan rezim melalui pemaksaan pihak luar.
Di sisi lain, Trump menyebut bahwa Teheran telah berupaya untuk melakukan kontak dengan Washington, namun detail yang hendak dirundingkan belum terkonfirmasi. Apa saja upaya perundingan itu, tak membuat Trump menolak pengerahan armada perang ke kawasan Teluk.
Iran telah bersumpah akan menyerang balik pangkalan-pangkalan militer AS jika Trump memilih untuk melaksanakan intervensi militer. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis sebuah artikel opini di Wall Street Journal bahwa Iran tak segan-segan untuk "melawan dengan semua yang kami punya" jika AS menyerang.
Iran kini bahkan dilaporkan tengah bersiap untuk mengantisipasi serangan rudal dari AS dan Israel. Juru bicara Garda Revolusi Mohammad Ali Naini menyatakan bahwa Iran tak segan menyerang jika armada AS masuk ke perairan teritorial Iran.
Sementara itu, Teheran juga terus melakukan kontra-narasi terhadap pernyataan-pernyataan Washington. Sekretaris dewan keamanan nasional tertinggi Iran, Ali Larijani, menyebut bahwa pernyataan dan sikap Trump terkait negaranya merupakan upaya propaganda untuk menggambarkan "negara ini berada dalam keadaan darurat" sebagai legitimasi intervensi.