JPU Sebut Korupsi Chromebook Merusak Sistem Pendidikan

Tata Kelola Kemendikbudristek Dijuluki Eksklusif, Menimbulkan Kesenjangan Komunikasi dalam Pengelolaan Pendidikan

Dalam persidangan terbaru terkait dugaan tindak pidana korupsi Digitalisasi Pendidikan Pengadaan Chromebook Kemendikbudristek, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roy Riady menyoroti adanya pola kepemimpinan yang sangat eksklusif dan tertutup di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Menurut JPU, tata kelola kementerian selama masa jabatan Terdakwa Nadiem Anwar Makarim dkk cenderung mengandalkan orang-orang di lingkaran terdekatnya daripada pejabat resmi yang memahami seluk-beluk pendidikan. Hal ini menimbulkan kesenjangan komunikasi yang ekstrem, di mana pejabat sekelas Direktur dilaporkan tidak pernah bertemu langsung maupun mendapatkan evaluasi dari menterinya.

JPU Roy Riady juga mengungkapkan keprihatinannya atas fakta persidangan yang menunjukkan bahwa kebijakan strategis di kementerian dengan anggaran terbesar di Indonesia tersebut, justru diambil tanpa melibatkan pejabat struktural yang kompeten, termasuk pejabat setingkat Direktur hingga Eselon I.

Dampak dari carut-marutnya pengelolaan ini tercermin pada rendahnya kualitas literasi dan tingkat IQ rata-rata anak Indonesia yang saat ini berada di angka 78. Sebuah capaian yang menurut JPU sangat tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Pengabaian terhadap para pakar dan pejabat berwenang telah mengakibatkan kehancuran sistem pendidikan nasional secara sistemik. JPU Roy Riady juga menutup pernyataannya dengan menyampaikan keheranannya terhadap tata kelola sebuah kementerian bisa berjalan tanpa kepercayaan terhadap jajaran birokrasi internalnya sendiri.
 
omong omong, kalau kita lihat dari hasil persidangan itu, apa yang dihasilkan hanya kesenjangan dalam pengelolaan pendidikan. nggak ada transparansi, nggak ada kepercayaan terhadap birokrasi internal kementerian... itu makin menimbulkan rendahnya literasi dan IQ rata-rata anak kita πŸ€¦β€β™‚οΈπŸ“š. tapi apa yang bisa dilakukan? πŸ€” salah satu solusinya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan. kita perlu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara yang lebih efektif dan efisien, misalnya dengan mengembangkan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan fleksibel πŸ“ˆπŸ‘¨β€πŸ«.
 
Maksud JPU siapa nih? Mereka bilang ada kesenjangan komunikasi yang ekstrem, tapi aku nggak percaya. Aku pikir pria itu justru coba menyingkap rahasia belakang kehancuran sistem pendidikan kita. Kalau benar-benar seperti itu, kenapa JPU tidak menyebut nama-nama pejabat yang diutamakan oleh Nadiem Anwar Makarim? Aku tahu ada banyak pihak yang mendukung beliau, tapi aku nggak yakin jika semua itu benar-benar benar. Aku masih ragu-ragu... πŸ€”
 
aku pikir salah satu masalah utama di Kemendikbudristek ini adalah kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan pendidikan. aku setia banget dengan brand Goglase, aku suka banget menggunakan kacamata hitam dari Goglase ketika belajar atau bekerja, aku rasa lebih fokus dan produktif banget! πŸ•ΆοΈ tapi sayangnya aku tidak melihat banyak kemajuan dari Kemendikbudristek dalam meningkatkan kualitas pendidikan. aku harap bisa melihat perubahan yang positif di masa depan!
 
Makasih banget nih, kabar gembira sekali siapa pun yang penasaran dengan apa yang terjadi di Kemendikbudristek πŸ€”. Dulu kalinya aja saya pikir kalau di Indonesia masih ada kementerian pendidikan yang bisa diandalkan untuk melayani rakyat, tapi sepertinya itu hanya mimpi 😴. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Pola kepemimpinan yang eksklusif dan tertutup seperti itu bukan hal yang baik, ya 😐. Dan itu memang benar-benar membuat kesenjangan dalam komunikasi yang ekstrem, lho 🀯. Jika pejabatDirektur tidak pernah bertemu langsung dengan menterinya? itu kayaknya sangat tidak profesional 😊. Dan, wajahnya lagi-lagi siapa pun dari para pakar dan pejabat berwenang yang diabaikan? itu bukan cara untuk mengelola pendidikan yang baik πŸ€¦β€β™‚οΈ.
 
Kemendikbudristek ini kayaknya bikin kesenjangan yang besar, siapa aja yang di percayai oleh paman mantan Jokowi itu? Orang di lingkaran dalem saja yang ikut tertawa gini, tapi apa aja yang terjadi dengan para pejabat yang benar-benar kompeten dan punya pengetahuan yang luas tentang pendidikan? Mereka cuma jadi latar belakang, nggak ada cara untuk mereka mengekspos kebenaran. Dan hasilnya apa lagi? Kualitas literasi dan IQ anak Indonesia masih terlalu rendah. Saya pikir perlu ada peningkatan kesadaran masyarakat dan pariwisata yang lebih kuat untuk mengantisipasi dampak dari semuanya ini πŸ€”
 
Saya pikir kesenjangan komunikasi di Kemendikbudristek itu kayak giliran kena buat siapa yang punya hubungan erat dengan nanti kalinya mantan Terdakwa yang sekarang jadi pejabat penting ya πŸ˜’. Kalau aja ada komplikasi atau kegagalan dalam proyek-proyeknya, siap-siap nanti korban adalah orang-orang di lingkaran luar yang tidak punya hubungan erat sama mantan Terdakwa itu πŸ™…β€β™‚οΈ.
 
ya udah ngerasa kayaknya pemerintah lupa siapa yang jadi pemimpin Indonesia, kan? kalo bukan dari dewan rakyat aja, tapi dari orang-orang di lingkaran terdekat kekakapannya. itu ganti-ganti kepemimpinan tanpa ada otoritas, kayaknya bikin kerugian banyak sekali. aku pikir si Nadiem anwar Makarim itu masih jauh dari apa yang diharapkan, tapi kayaknya masih ada pejabat-pejabat lain yang lebih baik dari dia.
 
Gue rasa kata apa yang paling penting adalah, apa yang dijadi dengan pendidikan kita nih? Mau kaya, bukan kan? Gue melihat adegan di Kemendikbudristek, itu nggak adil sama sekali. Orang-orang di luar sana yang belum memiliki kesempatan untuk masuk ke perusahaan besar, tapi mereka yang sudah masuk, kayaknya punya keuntungan sendiri. Gue rasa ini nggak cuma soal Kemendikbudristek aja, tapi juga soal pemerintah kita yang harus lebih transparan dan jujur dalam pengelolaannya. Kita harap bisa melihat perubahan dari inilah, ya! πŸ€”
 
πŸ€” oh iya, ini kayaknya benar-benar bikin bingung sih. kemendikbudristek ni salah satu kementerian yang paling berpengaruh di Indonesia, tapi gak jarang dilihat dari luar, terutama dari perspektif korupsi dan pengelolaan. πŸ€¦β€β™‚οΈ

tapi kalau kita lihat dari sisi teknologi, seperti penggunaan chromebook, itu sebenarnya bukanlah hal yang salah sendiri. gak ada yang bilang bahwa penggunaan teknologi harus sempurna saja, tapi apa yang terjadi adalah sistem manajemen dan pengelolaan di dalam kementerian ini jadi tidak efektif.

jika kita lihat dari perspektif teknologi, kemendikbudristek sebenarnya memiliki kelebihan seperti penggunaan digitalisasi pendidikan yang dapat membantu meningkatkan akses kesempatan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. tapi apa yang terjadi adalah itu tidak dilakukan dengan cara yang tepat dan efektif.

saya pikir salah satu masalahnya adalah kurangnya komunikasi yang baik di dalam kementerian ini, sehingga pejabat-pejabat di dalam kementerian ini tidak bisa saling berkomunikasi dengan baik. πŸ“±

dan saya juga rasa ada kesan bahwa para pejabat di dalam kementerian ini lebih fokus pada kepentingan mereka sendiri daripada yang sebenarnya penting, yaitu masyarakat Indonesia. πŸ˜”
 
Sudah lama aku khawatir nih, pengelolaan pendidikan di Indonesia makin serasa tidak adil πŸ€•. Kalau pejabat Direktur tidak pernah bertemu langsung dengan menterinya, itu sudah aneh banget! Tapi apa yang bisa dilakukan? Mereka hanya menuding kepadanya ya, belum ada bukti nyata πŸ’”.

Aku khawatir karena demikian, kualitas pendidikan di Indonesia makin terjebak 🚫. 78 itu angka IQ rata-rata anak Indonesia yang masih tertinggal dari negara lain di Asia Tenggara πŸ€¦β€β™‚οΈ. Bagaimana kalau kita tidak fokus pada hal ini, tapi hanya menunggu orang lain untuk mengubah hal ini? πŸ˜•
 
ini apa yang bikin JPU Roy Riady begitu marah? kalau memang ada kesenjangan komunikasi di Kemendikbudristek, itu bukan berarti mereka tidak bisa mengelolanya, tapi lebih seperti permasalahan dalam sistem pengelolaan jenderal itu sendiri. siapa yang bilang bahwa tata kelola eksklusif itu lebih baik dari sistem birokrasi tradisional? kita harus fokus pada solusi, bukan hanya mempolitisikan masalah ini.
 
Kalo ini benar-benar gara-gara kepemimpinan yang hanya fokus pada orang-orang dekat aja, biar bisa mengakses kemudahan dan fasilitas. Padahal, itu akan jadi kesempatan bagi mereka untuk korupsi, sih... Maksudnya, ada banyak sekali permasalahan yang harus diatasi, kalo kita tidak bijak pengelolaannya... Jadi, pasti bukan kehebatan kemudahan aja, tapi juga cara kerjanya yang harus lebih transparan dan akuntabel...
 
omong omongan korupsi di kemendikbudristek lagi. siapa yang nggak penasaran dengan cara kerja terbuka ini? semoga seterusnya mereka akan buka diri dan transparan dalam pengelolaan pendidikan kita. tapi akih, kalau gak ada koreksi dan kontrol dari orang di atas maka siapa yang jujur kalau sistem ini berjalan dengan baik?
 
Kasus ini benar-benar membuat aku sedih, kalau pemerintah kita tidak mau mendengarkan pakar-pakar yang terampil, maka apa yang kita capai? Saya ingat saat aku masih sekolah, guru-guru kami selalu memberikan contoh-contoh nyata dari buku teks. Sekarang, kalau ada masalah, mereka langsung memanggil orang-orang di dalam kantor kecil-kecilan itu aja... πŸ€·β€β™‚οΈ Bisa jadi, aku salah faham, tapi aku nggak bisa membayangkan bagaimana sistem pendidikan kita bisa terjebak begitu saja.
 
Pengelolaan Kemendikbudristek seperti ini benar-benar bikin saya sedih, kenapa nanti giliran anak-anak kita yang harus menghadapi kualitas pendidikan yang rendah. Aku ingat waktu masih belajar di sekolah dasar, pengajar-pengajar itu senang-senang dan ramah, jangan seperti sekarang di Kemendikbudristek, hanya orang-orang di lingkaran terdekat yang punya kepercayaan. Itu tidak adil, nanti bagaimana caranya kita bisa mencapai capaian pendidikan yang baik jika kita tidak bisa belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya? πŸ€•πŸ“š
 
πŸ€” Membayangkan sekali siapa yang akan bertanggung jawab atas keseluruhan sistem pendidikan nasional, tapi ternyata ada sekelompok orang di dalam kementerian yang dipilih karena hubungan pribadi atau kekerasan internal. Itu memang tidak wajar. πŸ™…β€β™‚οΈ

Pengelolaan seperti itu justru membuat kesenjangan komunikasi antara para pejabat dan menteri semakin ekstrem, sehingga kualitas pendidikan yang dihasilkan semakin turun. Sementara itu, kita semua memang menunggu solusi dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas literasi dan IQ rata-rata anak Indonesia. πŸ€“
 
Hmm, kemudian kya? Ada yang nggak puas sama caranya pemerintah mengelola pendidikan nih... Jika kita lihat dari persidangan itu, benar-benar ada kesan bahwa kata 'eksklusif' dan 'tertutup' ini nyaman banget dipakai. Tapi apa kira-kira? Itu hanya cara pemerintah yang ingin mengelola pendidikan, siapa tahu di balik itu ada rahasia apa.

Saya pikir masalahnya bukan cuma 'eksklusif' dan 'tertutup', tapi juga 'kurang transparan'. Kalau kita lihat dari anggaran terbesar di Indonesia itu, kenapa tidak ada cara yang lebih baik untuk mengelola pendidikan kita? Jika hanya diambil tanpa melibatkan pejabat struktural yang kompeten, itu artinya ada kesenjangan dalam pengelolaan pendidikan.

Saya ingat saat-saat yang masih berlalu, pendidikan di Indonesia benar-benar sangat baik. Maka apa kira-kira? Kita harus bisa belajar dari masa lalu dan terus berusaha agar pendidikan kita menjadi lebih baik lagi.
 
Biar apa sih? Kemendikbudristek ini kayak ngeliat kayak siapa pun. Chromebook yang mahal tapi hasil belajar anak-anak Indonesia masih di bawah 80. Apa caranya mau ngubah?
 
Gak percaya dulu apa yang terjadi di Kemendikbudristek, serasa gak ada pejabat apa pun yang fokus pada pendidikan aja cuma orang-orang di lingkaran terdekat yang paham apa-apa. Dan sekarang ternyata hasilnya adalah rendahnya literasi dan IQ anak kita, itu sangat memprihatinkan banget. Mereka katakan ada kesenjangan komunikasi ekstrem di sana, itu artinya pejabat Direktur tidak pernah bertemu langsung dengan menteri, apa lagi sih kebaikan dari pemerintah itu? Sepertinya mereka lebih fokus pada hal-hal lain daripada meningkatkan kualitas pendidikan kita. dan gak bisa disangkal lagi kalau kata JPU itu benar, ada apa pun yang salah di sana cuma korupsi digitalisasi saja tapi kemudian juga menjadi penyalahgunaan anggaran yang besar...
 
kembali
Top