Masyarakat Mukim Wihni Dusun Jamat, Kecamatan Linge Aceh Tengah akhirnya bisa melintasi Sungai Kala Ili setelah sempat terisolasi karena jembatan utama terputus. Jembatan apung darurat yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat itu berhasil diselesaikan, sehingga akses menuju lima desa di wilayah tersebut kembali terbuka.
Kemukiman Linge itu terkena dampak parah akibat banjir bandang pada akhir November lalu. Jembatan Kala Ili yang merupakan satu-satunya akses penghubung menuju lima desa itu tidak bisa dilalui, sehingga aktivitas masyarakat terganggu. Warga harus mencari cara alternatif untuk menyeberangi sungai demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelumnya, masyarakat sempat menggunakan getek sebagai alat penyeberangan sementara, namun dinilai berisiko dan tidak mampu mengakomodasi distribusi logistik dalam jumlah besar. Kemudian, upaya pembangunan jembatan darurat dilakukan, tapi kembali rusak setelah diterjang banjir susulan.
Tapi, tak ingin terus terisolasi, masyarakat bersama pemuda kemukiman kembali bergotong royong membangun jembatan apung darurat untuk kedua kalinya. Jembatan ini sekarang bisa dilintasi kendaraan roda dua dan menjadi alat penyeberangan yang aman bagi warga.
Pemuda setempat, Samudra, mengatakan bahwa jembatan apung darurat berhasil diselesaikan, sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas. Ia menambahkan bahwa jembatan ini memungkinkan distribusi logistik ke lima desa dan memungkinkan masuknya material penting untuk pembangunan lanjutan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah merencanakan pembangunan jembatan gantung sementara dalam waktu dekat. Jembatan ini hanya bisa dilintasi oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Selain persoalan jembatan, akses jalan darat dari Kota Takengon menuju wilayah Kecamatan Linge juga sempat mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir dan longsor. Namun, saat ini kondisi jalan tersebut mulai membaik, sehingga distribusi bantuan bisa dilakukan dengan lebih mudah kepada masyarakat.
Kemukiman Linge itu terkena dampak parah akibat banjir bandang pada akhir November lalu. Jembatan Kala Ili yang merupakan satu-satunya akses penghubung menuju lima desa itu tidak bisa dilalui, sehingga aktivitas masyarakat terganggu. Warga harus mencari cara alternatif untuk menyeberangi sungai demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelumnya, masyarakat sempat menggunakan getek sebagai alat penyeberangan sementara, namun dinilai berisiko dan tidak mampu mengakomodasi distribusi logistik dalam jumlah besar. Kemudian, upaya pembangunan jembatan darurat dilakukan, tapi kembali rusak setelah diterjang banjir susulan.
Tapi, tak ingin terus terisolasi, masyarakat bersama pemuda kemukiman kembali bergotong royong membangun jembatan apung darurat untuk kedua kalinya. Jembatan ini sekarang bisa dilintasi kendaraan roda dua dan menjadi alat penyeberangan yang aman bagi warga.
Pemuda setempat, Samudra, mengatakan bahwa jembatan apung darurat berhasil diselesaikan, sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas. Ia menambahkan bahwa jembatan ini memungkinkan distribusi logistik ke lima desa dan memungkinkan masuknya material penting untuk pembangunan lanjutan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Aceh Tengah, Mustafa Kamal menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah merencanakan pembangunan jembatan gantung sementara dalam waktu dekat. Jembatan ini hanya bisa dilintasi oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua.
Selain persoalan jembatan, akses jalan darat dari Kota Takengon menuju wilayah Kecamatan Linge juga sempat mengalami kerusakan parah akibat bencana banjir dan longsor. Namun, saat ini kondisi jalan tersebut mulai membaik, sehingga distribusi bantuan bisa dilakukan dengan lebih mudah kepada masyarakat.