Hehe, akhirnya dae gerakan Jambi Berpantun bisa ngejutin dunia ! Saya senang sekali provinsi ini berhasil menancapkan nama di dunia literasi dan budaya nasional, tapi sepertinya masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Misalnya, apakah mereka benar-benar memastikan pantun tersebut tidak terlalu serius? Nah, saya bayangkan kalau 20.375 peserta tersebut semua nge-singkatkan pantun-nya dalam waktu singkat, hasilnya apa?
Tapi, yang penting adalah gerakan ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang warisan budaya Melayu Jambi dan membuat mereka terlihat lebih bersemangat akan kebudayaan lokal. Saya harap kalau generasi muda ini bisa bermanfaat dari pengakuan UNESCO dan berusaha untuk melestarikan pantun sebagai identitas budaya yang kuat .
122.554 bait pantun, itu nggak main-main, ya! Melayu Jambi pasti senang bisa "meme"kan tradisi lisan mereka ke seluruh dunia . Pengakuan UNESCO sih? itu seperti "Likes" besar untuk warisan budaya Melayu Jambi . Tapi, apa yang pasti, pantun masih hidup dan terus dienalkan oleh generasi muda .
Gue rasa ini jadi inspirasi buat kita mahasiswa, ya? Kalau kita bisa mengumpulkan banyak pantun dari masyarakat, itu berarti kita sudah berhasil membuat perubahan positif dalam masyarakat! Gue suka banget dengan gerakan Jambi Berpantun, karena mereka tidak hanya fokus pada jumlah pantun yang dihasilkan, tapi juga pada bagaimana cara membangun kembali tradisi lisan ini. Kalau kita mahasiswa bisa melakukan hal yang sama, gue rasa kita bisa membuat perubahan positif dalam masyarakat kita!
Maksudnya, kalau gak ada konsep Jambi Berpantun, pasti provinsi Jambi gak bisa jadi salah satu tempat literasi dan budaya terbaik di Indonesia ! Sekarang sudah punya rekor Muri yang begitu mencengangkan, yaitu 122.554 bait pantun. Itu sangat luar biasa kan?
Tapi apa yang pasti adalah, gerakan ini tidak sekadar mengejar angka, melainkan sebuah ikhtiar untuk memastikan pantun tetap hidup sebagai warisan budaya. Karena pantun itu memiliki fungsi strategis yang melampaui karya sastra lisan dan berperan sebagai media pendidikan karakter, perekat sosial, serta cerminan nilai-nilai budaya Melayu Jambi .
Sekarang kita sudah punya Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang ditetapkan pada 2015 dan menjadi bagian dari kumpulan pantun se-Indonesia yang memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage pada 2020. Itu adalah bukti bahwa pantun itu memiliki nilai-nilai yang sangat berharga .