Jaksa Cecar Saksi Soal Pertemuan Google-Pejabat di Era Nadiem

Jaksa cecar saksi, soal pertemuan Google- pejabat, di era Nadiem.

JPU mengejar Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto. Pertanyaannya: apakah saksi pernah didatangi atau ditemui pihak Google sebelum pengadaan laptop Chromebook dilakukan pada era Menteri Nadiem Makarim.

Gogot membenarkan adanya pertemuan yang terjadi sebelum pengadaan tahap pertama pada Maret 2019. Ia menjelaskan, ada dua orang yang satu perwakilan Indonesia, Ganis Samoedra dari Google, dan salah satunya dari Singapura karena waktu suratnya dari Singapura langsung ke Pak Menteri, disposisi ke sekretaris jenderal (sesjen), sesjen ke saya.

Jaksa kemudian menanyakan tentang waktu pertemuan tersebut. Gogot memastikan, pertemuan berlangsung sebelum Maret 2019, atau sebelum pengadaan Chromebook pertama kali dilaksanakan. Ia menjelaskan, itu sebelumnya, berarti sebelum Maret 2019.

Gogot juga menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu, Google menawarkan solusi terkait tantangan layanan Sekolah Garis Depan (SGD), khususnya mengenai pemantauan pemanfaatan perangkat dan penggunaan internet di sekolah penerima. Ia menjelaskan, kami ditanya bagaimana memonitor penggunaan perangkatnya. Kita mencari solusi bagaimana supaya kita bisa mendeteksi perangkat kita sudah dipakai seoptimal apa. Namanya CMD itu.

Menurut Gogot, fitur tersebut dipresentasikan sebagai jawaban atas kebutuhan Kominfo dan Program Bakti untuk memastikan perangkat yang diberikan benar-benar digunakan di sekolah-sekolah, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Jaksa kemudian menyoroti tindak lanjut setelah pengadaan tahap pertama pada Maret 2019. Setelah dilakukan evaluasi, pemerintah memutuskan tidak lagi menggunakan Chromebook pada pengadaan tahap kedua. Atas penghentian itu, jaksa pun menanyakan apakah pihak Google mengajukan keberatan.

Gogot menjawab, tidak ada. Jaksa kembali mendalami apakah Google pernah mengirim surat kepada Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) untuk meminta audiensi atau presentasi lanjutan setelah Chromebook dihentikan. Gogot menegaskan tidak ada komunikasi lanjutan dari Google setelah 2019.
 
Gaduh banget kayaknya proses pengadaan laptop Chromebook ini 🙄. Jadi jelas kok pertemuan antara Google dan pejabat era Nadiem terjadi sebelum pengadaan tahap pertama, tapi apa yang pasti sih ada konflik tentang itu? 🤔

Gogot memang benar-benar menjelaskan kalau ada dua orang dari Indonesia dan Singapura yang hadir dalam pertemuan tersebut, tapi aku jadi curiga siapa saja yang bertanggung jawab atas kesalahannya? 🤷‍♂️

Dan apa yang paling mengejutkan sih kalau Google tidak pernah mengirim surat kepada Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui Pustekkom untuk meminta audiensi atau presentasi lanjutan setelah Chromebook dihentikan 🤯. Tapi, siapa yang bilang kalau Google tidak bisa mengirim surat itu? 🤔

Aku rasa ada lagi sesuatu yang belum jelas tentang pengadaan laptop Chromebook ini 😒.
 
Gampang banget ya, siapa nih yang bilang kalau Google jujur? 🤔 Pertemuan antara Menteri Nadiem Makarim dan Google itu sebenarnya sudah ada sebelum pengadaan Chromebook pertama kali dilaksanakan. Tapi apa yang bikin orang curiga adalah, kenapa Google tidak mau jawab sih kalau suratnya dari Singapura langsung ke Pak Menteri, disposisi ke sekretaris jenderal? 💸 Kalau benar-benar jujur, sebenarnya bukan masalah sih. Tapi kalau ada yang curiga, pastikan kalian bukti-nyata aja! 📝
 
Gue pikir jaksa cecar saksi ini, kok lagi tanya-tanya hal apa lagi? Nah kalau sudah ternyata bahwa gogot benar, tapi jaksa masih nggak puas. Gue rasa jaksa harus fokus pada masalah yang sebenarnya, yaitu bagaimana Chromebook digunakan di sekolah-sekolah. Apakah benar-benar ada masalah? Ataukah cuma Jaksa cek-cek siapa yang berbohong? 🤔 Gogot sudah menjelaskan bahwa pertemuan itu sebelum Maret 2019, dan Google menawarkan solusi untuk mendeteksi penggunaan perangkat di sekolah. Gue rasa Jaksa harus lebih teliti dalam menyebutkan fakta-fakta yang ada sebelum membuang-buang waktu nggak penting seperti ini. 🙄
 
ini kayaknya pemberian laptop chromebook pada era nadiem sengaja terlambat kan? kayaknya ini bukti bahwa google dan pemerintah sudah memiliki rencana sebelumnya untuk menghentikan pengadaan tahap kedua, tapi sepertinya yang terjadi adalah Google malas banget untuk memberitahu menteri tentang keinginannya untuk tidak melanjutkan. ini kayaknya bukti bahwa di balik kesepakatan, ada lagi yang sebenarnya ingin dicapai. dan ini juga membuat kita penasaran, siapa yang sebenarnya yang mengontrol semua hal ini?
 
kalo aku lihat news ini, kayaknya google dan pemerintah nadiem makarim punya kerja sama yang bagus banget 😊. tapi aku rasa pengaduan jaksa ini sangat penting karena kita harus tahu benar-benar apa yang terjadi. seperti kalo google memang tidak pernah mengirimkan surat kepada pemerintah untuk presentasi lanjutan setelah chromebook dihentikan, itu akan membuat kita ragu-ragu lagi.

tapi aku juga rasa kita harus mencermati bahwa pemerintah dan google punya rencana yang baik banget untuk membantu pendidikan di Indonesia. seperti fitur cmd yang di presentasikan oleh google itu, itu benar-benar bisa membantu kita mendeteksi perangkat apa saja yang sudah dipakai di sekolah. kalo kita tidak memiliki solusi seperti itu, maka kita akan kesulitan dalam mengawasi penggunaan perangkat di sekolah.

jadi aku pikir news ini sebenarnya cukup penting dan kita harus membaca lebih lanjut untuk memahami apa yang terjadi pada chromebook di Indonesia. 🤔
 
kembali
Top