Istri Zivan Radmanovic: Tuntutan Penembak WN Australia Tak Adil

Istri Zivan Radmanovic, korban penembakan warga negara (WN) Australia di Bali, meluapkan kekecewaannya atas tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap para terdakwa. Ia menilai tuntutan hukuman tersebut sangat tidak sebanding dengan hilangnya nyawa sang suami serta dampak trauma mendalam yang harus ditanggung oleh keluarganya.

Di sidang tuntutan, Jaksa menuntut kedua eksekutor, Mevlut Coskun dan Paea-I-Middlemore Tupou, dengan pidana 18 tahun penjara. Sementara Darcy Francesco Jenson dituntut 17 tahun penjara karena membantu kedua eksekutor melancarkan aksinya.

Istri korban mengungkapkan bahwa tuntutan jaksa yang diberikan kepada ketiga pelaku mencerminkan ketimpangan yang mencolok dalam konteks hukum Indonesia. Dia menyebut Indonesia secara historis dikenal mengambil sikap yang tegas dan tanpa kompromi terhadap kejahatan, seperti untuk kasus narkotika yang dapat berujung pada hukuman mati atau seumur hidup.

"Kami hadir di sini untuk bertanya dengan penuh hormat, berapakah nilai sebuah nyawa manusia? Jika pembunuhan internasional memiliki konsekuensi yang lebih ringan dibandingkan penyelundupan narkoba, pesan apa yang akan disampaikan kepada para pelaku di masa depan dan kepada komunitas internasional?" kata istri korban secara daring dalam konferensi pers di Seminyak.

Istri korban juga menyampaikan keadilan harus memberikan efek jera, serta membuktikan bahwa kehidupan itu suci dan tidak ternilai. Dia menilai tuntutan jaksa tidak mencerminkan beratnya perbuatan, dampak kemanusiaan, maupun kebutuhan efek jera.

Saya berada di sini untuk memastikan bahwa nyawa Zivan tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang sepele, dan bahwa hukuman yang dijatuhkan benar-benar mencerminkan beratnya kejahatan berdarah dingin yang telah dilakukan.
 
Saya pikir jaksa penuntut umum tidak bisa menekankan betapa beratnya perbuatan pembunuhan itu. 18 dan 17 tahun penjara mungkin sudah cukup keras, tapi saya masih merasa tidak sebanding dengan hilangnya nyawa Zivan. Saya juga bingung sih dengan tuntutan yang diberikan kepada pelaku, apakah mereka dianggap sama seperti pelaku narkotika? Di Indonesia kita sudah punya kasus narkotika yang sangat berat, tapi ini lebih dari itu. Ini adalah kejahatan manusia yang tidak bisa dihargai dengan sekadar penjara. Saya harap jaksa penuntut umum bisa mempertimbangkan betapa beratnya perbuatan ini dan memberikan hukuman yang lebih sesuai. 🤔
 
karena gila sekali si Jaksa Penuntut Umum itu, bilangin 18 tahun penjara tapi apa lagi kalau korban dari penembakan sih? keduanya seorang ayah-ibu sama-sama kehilangan nyawa anaknya, tapi tuntutan jaksa jadi begitu jelek! kalau dulu kasus narkotika itu benar-benar serius dan bisa berujung pada hukuman mati, tapi kasus ini sih apa lagi? kalo mau pakai hukuman yang ringan siapa yang bilangin bahwa penembakan itu tidak perlu dihakimi? toh saya rasa ada yang salah di sini, jangan biarkan korban dari penembakan ini jadi contoh, biar mereka bisa dipelajari sih.
 
Aku pikir jaksa penuntut umum (JPU) itu terlalu banyak menganggap hal tersebut sebagai kasus narkotika aja, tapi bukan. Aku pikir ada sesuatu yang tidak enaknya di situ, yaitu pembunuhan internasional seperti ini 🤕. Mungkin kalau mereka hanya dituntut dengan hukuman mati saja, bisa jadi kejahatan ini tidak akan terjadi lagi 💀. Tapi aku tahu kalau itu bukan solusinya...
 
aku juga pikir apa sih nilai sebuah nyawa manusia itu, kalau pembunuhan internasional kayak bisa duduk santai 17 tahun penjara bukan masalah sama sekali ya 🤯. tapi kalau penyelundupan narkoba bisa berujung pada hukuman mati atau seumur hidup sih, itu seperti ada keseimbangan ya? aku rasa perlu adanya efek jera yang lebih berat untuk kejahatan-kejahatan tersebut, sehingga orang-orang bisa terinspirasi tidak melakukan hal yang sama di masa depan 💔.
 
gak bisa dipungut nazar sih, tuntutan jaksa itu keren banget, tapi si korban suami dia bilang 18 tahun penjara untuk membantu eksekutor aja? sekarang kalau korban gini ada, mereka akan dihukum seumur hidup kan? serius, Indonesia harus lebih bijak dalam mengatur hukuman.
 
oh iya, aku paham apa yang sedang terjadi di sini... tuntutan jaksa yang diberikan kepada para pelaku penembakan korban di Bali ini memang agak susah dipertimbangkan... 18 tahun penjara untuk kedua eksekutor dan 17 tahun untuk pembantu mereka? itu memang terlalu ringan, kan? aku pikir hukuman yang lebih berat akan lebih sesuai dengan kejahatan yang telah dilakukan... dan apa yang membuatku khawatir adalah dampaknya pada keluarga korban, yang harus menghadapi trauma mendalam itu...
 
Saya rasa jaksa penuntut umum (JPU) kurang jujur dengan tuntutan tersebut, kalau nyawa Zivan Radmanovic diperlukan seperti itu, kenapa tidak ada hukuman mati atau seumur hidup untuk kedua eksekutor yang membunuh suaminya? Saya rasa jika nanti ada kasus terduga lagi, kita harus mempertimbangkan kembali tuntutan jaksa tersebut. Tapi saya juga menghargai upaya JPU untuk memperbaiki system hukum kita.
 
Kalau coba, kalau korban warga negara Australia itu diperlukan hukuman 18 tahun penjara, berarti siapa yang dilanggar? 😐 Mungkin ada sesuatu yang salah dalam sistem hukum Indonesia ini... 🤔 Pada dasarnya, saya setuju bahwa kejahatan harus dihukum, tapi tidak perlu terlalu ringan atau terlalu keras, kudu ada akurasi dan proporsi, kalau 18 tahun penjara untuk pembunuhan itu mungkin sudah terlalu ringan, padahal korban memiliki orang tua, pasangan, keluarga yang harus ditanggung beban trauma ini... 🤕
 
Saya rasa Jaksa Penuntut Umum (JPU) sedang sibuk ya... selama ini dia hanya bilang 'penjara' saja, tapi gampangnya lupa bahwa ada konsekuensi nyata dari perbuatan tersebut. Saya rasa mereka harus lebih teliti dalam menentukan hukuman yang tepat. Tapi, saya tidak melihat ada opsi lain selain itu...
 
Pengadilan itu kayaknya gak adil banget... Jaksa Penuntut Umum itu terlalu mudah memaksa penjara untuk para pelaku, tapi apa dengan nyawa korban? Kalau narkotika bisa dikenakan hukuman mati atau seumur hidup, mengapa pembunuhan internasional gak bisa? Ini kayaknya ada konspirasi, ya... Jaksa dan pihak berwenang mau membiarkan para pelaku bebas karena ada tekanan dari luar? Saya rasa ada yang tersembunyi di balik pengadilan ini... 🤔
 
Ggak bisa jadi ngerasa kan? Tuntutan jaksa itu sangat tidak adem banget! 18 tahun penjara untuk pembunuhan itu apa kabar? Nyawa Zivan itu mahal banget, tapi jaksa punya nilai mana? "1 nyawa = 18 tahun penjara" kayaknya kalau begitu jadi nggak ada batas kan? Maksudnya, efek jera itu apa? Tungtun justru bikin keluh kesah gini. Jangan sabar-sabar aja, harus punya efek jera yang lebih berat banget!
 
😕 aku pikir 18 tahun penjara untuk dua eksekutor itu ngga bisa dianggap sebanding dengan kerugian jiwa nyata keluarga korban... 💔 itu bukan hanya tentang hukuman, tapi juga tentang efek jera yang harus diberikan kepada korban dan keluarganya. 🤕 aku harap jaksa penuntut umum bisa mempertimbangkan kembali tuntutan hukumannya agar lebih sesuai dengan kebenaran dan keadilan... 😔
 
mana dia bisa begitu marah 😱? aku pikir 18 tahun penjara untuk membunuh seseorang itu sudah cukup berat, tapi dia bilang bahwa itu tidak sebanding dengan hilangnya nyawa suaminya... aku rasa dia benar-benar kecewa dengan hukuman yang diberikan kepada para terdakwa 🤔. tapi apa yang salah dengan 18 tahun penjara? siapa yang akan memberi dia hukuman yang lebih berat karena membunuh seseorang? 🤷‍♀️ aku rasa kita harus fokus untuk mencegah kejahatan seperti ini terjadi lagi di masa depan, bukan hanya memujilah hukuman yang telah diberikan 🙏.
 
Kalau tuntutan jaksa itu benar-benar tidak adil, bagaimana caranya orang Indonesia bisa jadi terus menghormati hukum? Pasti ada yang penasaran dengan perbuatan para terdakwa, tapi kalau mereka dihukum ringan, apa kisahnya? Kita harus ingat, bukan cuma tentang hukuman, tapi juga tentang keadilan dan efek jera untuk korban. Kalau tidak ada konsekuensi yang serius, para pelaku tidak akan berpikir dua kali sebelum melakukan kesalahan seperti itu lagi, ya 🤕
 
Tadi malam aku baca news ini dan aku kira kalau Indonesia sudah bisa lebih baik lagi dalam mengadili kasus-kasus kriminal internasional. 18 tahun penjara untuk pembunuhan? Aku pikir itu tidak sebanding dengan yang mereka lakukan. Aku ingin tahu, bagaimana kita bisa membedakan antara narkotika dan pembunuhan? Kita harus lebih serius dalam mengadili kasus-kasus ini agar masyarakat tidak merasa tidak aman lagi.
 
Tapi apa lagi yang bisa dibicarakan? Jakarta sekali lagi terbuka lebar bagi penembak warga negara Australia di Bali. Apa lagi yang ingin dituntut dari Jaksa Penuntut Umum (JPU)? Nyawa korban tidak cukup untuk menuntun para pelaku ini. Mereka harus tahu bahwa kejahatan berdarah dingin itu memiliki konsekuensi yang sangat berat, seperti hilangnya nyawa manusia dan trauma mendalam bagi keluarga korban. Tapi JPU hanya menuntut penjara 18 tahun untuk eksekutor yang melakukan penembakan itu? Nyatanya, hukuman tersebut tidak mencerminkan beratnya perbuatan itu.
 
Wow 😱, gimana caranya Jaksa Penuntut Umum bisa begitu tidak adil? 🤔 Dampak trauma keluarga korban ini sangat besar, tapi apa yang dilakukan Jaksa?? 🙄 Saya pikir 18 tahun penjara untuk pembunuhan itu terlalu ringan. 😂 Banyak orang yang duduk di balik tahanan masih banyak lagi dari pembunuhan. Mesti ada cara lain yang lebih tepat, tapi saya tidak kenal caranya 🤷‍♂️.
 
Wow! 🤯 Semoga jaksa penuntut umum bisa mempertimbangkan kembali tuntutan jaksa terhadap para pelaku, sehingga mereka bisa mendapatkan hukuman yang benar-benar sesuai dengan seriusnya kejahatan yang telah dilakukan. 😢
 
Gak bisa dipungut nafsu, apa salahnya dia menilai tuntutan jaksa itu kayak gitu? Jika Indonesia ini memang dikenal keras terhadap kasus narkotika, tapi korban penembakan di Bali ini kayaknya tidak mendapatkan pengakuan yang sama. Itu rasanya tidak adil.
 
kembali
Top