Israel Buka Rafah Setelah 2 Tahun, Tapi Warga Gaza Dibatasi Ketat
Setelah hampir dua tahun ditutup, Israel membuka kembali sebagian penyeberangan Rafah di Gaza sebagai bagian dari "operasi percontohan". Pergerakan warga diperkirakan mulai berlangsung pada Senin (2/2/2026), namun hanya terbatas jumlahnya.
Menurut laporan Media Israel Yedioth Ahronoth, sekitar 150 warga Gaza diharapkan meninggalkan wilayah tersebut setiap hari, sementara hanya sekitar 50 orang yang diizinkan kembali. Penyeberangan ini dilakukan di tengah situasi keamanan yang masih memanas, meskipun gencatan senjata secara resmi diberlakukan.
Penyeberangan Rafah merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk Gaza yang tidak dikendalikan langsung oleh Israel. Namun, perbatasan ini ditutup sejak Mei 2024, ketika pasukan Israel mengambil alih wilayah tersebut selama operasi militer besar-besaran di Gaza.
COGAT, badan Kementerian Pertahanan Israel yang mengoordinasikan urusan sipil Palestina, menyatakan bahwa penyeberangan Rafah dibuka untuk lalu lintas terbatas bagi penduduk saja. Operasi ini dilakukan dengan koordinasi Mesir, pengawasan Uni Eropa, serta pemeriksaan keamanan individu oleh Israel.
Sementara itu, warga Gaza yang akan meninggalkan wilayah tersebut diharapkan untuk mempersiapkan diri dengan baik, karena jumlah terbatas. Walaupun demikian, banyak warga yang masih khawatir tentang keselamatan mereka dan keamanan watakrama mereka di luar Gaza.
Penyeberangan Rafah membuka harapan bagi warga Gaza yang ingin meninggalkan wilayah tersebut untuk mencari kebutuhan dasar atau memperbaiki status hukum mereka. Namun, banyak juga yang masih khawatir tentang efektivitas operasi ini dan apakah dapat memenuhi kebutuhan warga yang lebih luas.
Setelah hampir dua tahun ditutup, Israel membuka kembali sebagian penyeberangan Rafah di Gaza sebagai bagian dari "operasi percontohan". Pergerakan warga diperkirakan mulai berlangsung pada Senin (2/2/2026), namun hanya terbatas jumlahnya.
Menurut laporan Media Israel Yedioth Ahronoth, sekitar 150 warga Gaza diharapkan meninggalkan wilayah tersebut setiap hari, sementara hanya sekitar 50 orang yang diizinkan kembali. Penyeberangan ini dilakukan di tengah situasi keamanan yang masih memanas, meskipun gencatan senjata secara resmi diberlakukan.
Penyeberangan Rafah merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk Gaza yang tidak dikendalikan langsung oleh Israel. Namun, perbatasan ini ditutup sejak Mei 2024, ketika pasukan Israel mengambil alih wilayah tersebut selama operasi militer besar-besaran di Gaza.
COGAT, badan Kementerian Pertahanan Israel yang mengoordinasikan urusan sipil Palestina, menyatakan bahwa penyeberangan Rafah dibuka untuk lalu lintas terbatas bagi penduduk saja. Operasi ini dilakukan dengan koordinasi Mesir, pengawasan Uni Eropa, serta pemeriksaan keamanan individu oleh Israel.
Sementara itu, warga Gaza yang akan meninggalkan wilayah tersebut diharapkan untuk mempersiapkan diri dengan baik, karena jumlah terbatas. Walaupun demikian, banyak warga yang masih khawatir tentang keselamatan mereka dan keamanan watakrama mereka di luar Gaza.
Penyeberangan Rafah membuka harapan bagi warga Gaza yang ingin meninggalkan wilayah tersebut untuk mencari kebutuhan dasar atau memperbaiki status hukum mereka. Namun, banyak juga yang masih khawatir tentang efektivitas operasi ini dan apakah dapat memenuhi kebutuhan warga yang lebih luas.