Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengancam Iran dengan armada perang. Menurutnya, waktu untuk menegosiasikan kesepakatan mengenai program nuklir Iran sudah hampir habis.
Trump menyebutkan bahwa armada besar kapal perang AS sedang bergerak menuju Iran, siap untuk bertindak dengan kekuatan dan tujuan yang jelas. Ia mengklaim armada ini lebih besar daripada armada AS saat menangkap Presiden Venezuela.
"Armada besar sedang menuju Iran. Armada ini bergerak cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar. Armada ini lebih besar, dipimpin oleh Kapal Induk Abraham Lincoln yang hebat, daripada yang dikirim ke Venezuela. Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu," tulis Trump.
Trump juga menegaskan bahwa Iran harus "datang ke Meja Perundingan" dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata, tanpa senjata nuklir. Ia mengancam jika Iran tidak mau berunding, maka ancaman serangan yang lebih besar dari sebelumnya akan terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap "dengan jari di pelatuk" untuk merespons agresi secara segera dan tegas. Iran juga menolak tuduhan AS serta sekutunya yang menuduh negara tersebut berusaha membuat senjata nuklir.
Iran selalu menyambut baik kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan setara dengan kedudukan yang sama, dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi. Senjata semacam itu tidak memiliki tempat dalam perhitungan keamanan kami dan kami tidak pernah berupaya untuk memperolehnya.
Trump menyebutkan bahwa armada besar kapal perang AS sedang bergerak menuju Iran, siap untuk bertindak dengan kekuatan dan tujuan yang jelas. Ia mengklaim armada ini lebih besar daripada armada AS saat menangkap Presiden Venezuela.
"Armada besar sedang menuju Iran. Armada ini bergerak cepat, dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar. Armada ini lebih besar, dipimpin oleh Kapal Induk Abraham Lincoln yang hebat, daripada yang dikirim ke Venezuela. Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu," tulis Trump.
Trump juga menegaskan bahwa Iran harus "datang ke Meja Perundingan" dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata, tanpa senjata nuklir. Ia mengancam jika Iran tidak mau berunding, maka ancaman serangan yang lebih besar dari sebelumnya akan terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap "dengan jari di pelatuk" untuk merespons agresi secara segera dan tegas. Iran juga menolak tuduhan AS serta sekutunya yang menuduh negara tersebut berusaha membuat senjata nuklir.
Iran selalu menyambut baik kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan setara dengan kedudukan yang sama, dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi. Senjata semacam itu tidak memiliki tempat dalam perhitungan keamanan kami dan kami tidak pernah berupaya untuk memperolehnya.