Kementerian Luar Negeri Iran mengecam pernyataan G7 yang mengancam menjatuhkan sanksi baru atas aksi protes di negara itu. Pernyataan tersebut merupakan "bukti nyata sikap palsu dan munafik" dari negara-negara tersebut, kata kemlu Iran dalam laporan yang diunggah di Telegram.
Pernyataan ini ditimpali oleh kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi akibat melemahnya nilai tukar mata uang rial. Sejak 8 Januari, aksi protes melawan pemerintah yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei semakin intensif. Di beberapa kota, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi ketika demonstran meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika negara itu berusaha melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklir. Trump kemudian mengancam akan melancarkan serangan besar ke Iran jika pengunjuk rasa terbunuh. Ia juga berjanji mendukung rakyat Iran jika diperlukan.
Kementerian Luar Negeri Iran menganggap pernyataan tersebut sebagai bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri Republik Islam Iran, yang merupakan "sikap munafik" dari negara-negara tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa G7 masih memandang Iran sebagai bencana atau negara yang berbahaya, bukan sebagai negara yang memiliki hak asasi manusia seperti yang dijunjung tinggi oleh mereka.
Pernyataan ini ditimpali oleh kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi akibat melemahnya nilai tukar mata uang rial. Sejak 8 Januari, aksi protes melawan pemerintah yang dipimpin Ayatollah Ali Khamenei semakin intensif. Di beberapa kota, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi ketika demonstran meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika negara itu berusaha melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklir. Trump kemudian mengancam akan melancarkan serangan besar ke Iran jika pengunjuk rasa terbunuh. Ia juga berjanji mendukung rakyat Iran jika diperlukan.
Kementerian Luar Negeri Iran menganggap pernyataan tersebut sebagai bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri Republik Islam Iran, yang merupakan "sikap munafik" dari negara-negara tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa G7 masih memandang Iran sebagai bencana atau negara yang berbahaya, bukan sebagai negara yang memiliki hak asasi manusia seperti yang dijunjung tinggi oleh mereka.