Pemerintah Iran sedang menghadapi kesulitan paling besar sejak beberapa tahun terakhir. Protes rakyat yang meluas, memicu respons keras dari dalam negeri dan peringatan dari Amerika Serikat.
Protes rakyat dipicu oleh masalah ekonomi, tetapi kemudian berkembang menjadi protes yang lebih luas. Slogan-slogannya secara langsung menargetkan para pemimpin negara. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pidato televisi dengan nada tegas dan bersumpah tidak akan mundur.
Pemerintah Iran mencoba menerapkan pendekatan ganda: mengakui bahwa protes terkait ekonomi adalah sah, sambil mengecam apa yang mereka sebut sebagai perusuh kekerasan. Namun, Khamenei menggunakan bahasa yang jauh lebih keras pada Jumat.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mencatat puluhan demonstran tewas dalam hampir dua pekan terakhir. Pemadaman internet secara drastis mengurangi arus informasi dari dalam Iran. Telepon ke negara itu tidak tersambung, dan setidaknya 17 penerbangan antara Dubai dan Iran dibatalkan.
Para pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pembunuhan terhadap para demonstran dan mendesak otoritas Iran menahan diri dari penggunaan kekerasan. Juru bicara PBB juga menyampaikan pidato yang sangat prihatin dengan jatuhnya korban jiwa.
Kelompok-kelompok oposisi Iran di luar negeri yang terfragmentasi menyerukan lebih banyak aksi unjuk rasa. Reza Pahlavi menulis di media sosial, "Seluruh dunia memperhatikanmu. Turunlah ke jalan."
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa kemungkinan intervensi militer asing "sangat rendah". Ia menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Oman, negara yang kerap menjadi mediator antara Iran dan Barat, dijadwalkan berkunjung pada Sabtu.
Pemerintah Iran sebelumnya telah melewati berbagai gelombang besar kerusuhan. Namun, sekarang mereka sedang menghadapi kesulitan paling besar sejak beberapa tahun terakhir.
Protes rakyat dipicu oleh masalah ekonomi, tetapi kemudian berkembang menjadi protes yang lebih luas. Slogan-slogannya secara langsung menargetkan para pemimpin negara. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pidato televisi dengan nada tegas dan bersumpah tidak akan mundur.
Pemerintah Iran mencoba menerapkan pendekatan ganda: mengakui bahwa protes terkait ekonomi adalah sah, sambil mengecam apa yang mereka sebut sebagai perusuh kekerasan. Namun, Khamenei menggunakan bahasa yang jauh lebih keras pada Jumat.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mencatat puluhan demonstran tewas dalam hampir dua pekan terakhir. Pemadaman internet secara drastis mengurangi arus informasi dari dalam Iran. Telepon ke negara itu tidak tersambung, dan setidaknya 17 penerbangan antara Dubai dan Iran dibatalkan.
Para pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pembunuhan terhadap para demonstran dan mendesak otoritas Iran menahan diri dari penggunaan kekerasan. Juru bicara PBB juga menyampaikan pidato yang sangat prihatin dengan jatuhnya korban jiwa.
Kelompok-kelompok oposisi Iran di luar negeri yang terfragmentasi menyerukan lebih banyak aksi unjuk rasa. Reza Pahlavi menulis di media sosial, "Seluruh dunia memperhatikanmu. Turunlah ke jalan."
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa kemungkinan intervensi militer asing "sangat rendah". Ia menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Oman, negara yang kerap menjadi mediator antara Iran dan Barat, dijadwalkan berkunjung pada Sabtu.
Pemerintah Iran sebelumnya telah melewati berbagai gelombang besar kerusuhan. Namun, sekarang mereka sedang menghadapi kesulitan paling besar sejak beberapa tahun terakhir.