IPB Universitas Kembangkan Forensik DNA, Terobosan Baru Lawan Pembalakan Liar
Sebagai bagian dari upaya global untuk mengatasi masalah perdagangan kayu ilegal, IPB Universitas berpartisipasi dalam Indonesian-Based Wood Identification Program. Program ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi identifikasi kayu berbasis DNA, yang diharapkan dapat membantu penegakan hukum di sektor kehutanan.
Menurut Dr. Fifi Gus Dwiyanti, dosen silvikultur IPB Universitas dan salah satu peneliti dalam konsorsium ini, teknologi DNA memiliki peran penting dalam menekan angka perdagangan kayu ilegal di tingkat internasional. "Teknologi DNA telah menjadi standar global dalam forensik kehutanan, namun penerapannya di Indonesia masih terbatas," katanya.
Fifi menjelaskan bahwa teknologi identifikasi berbasis DNA dapat memberikan bukti ilmiah yang sangat akurat melalui tiga tingkat analisis. Pertama, identifikasi pada level famili, genus, atau spesies; kedua, penentuan asal-usul populasi kayu; dan ketiga, verifikasi kecocokan antara log kayu dengan tunggak asalnya di lapangan.
Dalam praktiknya, para peneliti menggunakan metode DNA barcoding untuk identifikasi spesies. Proses ini melibatkan ekstraksi DNA, polymerase chain reaction (PCR), hingga sequencing. Data yang diperoleh kemudian dicocokkan dengan basis data global seperti National Center for Biotechnology Information (NCBI) atau DNA Data Bank of Japan (DDBJ).
Namun, Fifi mengakui adanya tantangan besar dalam membangun basis data yang komprehensif untuk hutan Indonesia. "Peneliti harus mengembangkan database dari seluruh populasi alami setiap spesies kayu, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan spesies komersial," katanya.
Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada beberapa faktor kunci, mulai dari keragaman genetik, penggunaan penanda DNA yang diskriminatif, hingga kualitas ekstraksi DNA itu sendiri. IPB Universitas bersama konsorsium terus bekerja keras menyusun pilar ilmiah yang kuat untuk mengembangkan teknologi identifikasi kayu berbasis DNA.
Sebagai bagian dari upaya global untuk mengatasi masalah perdagangan kayu ilegal, IPB Universitas berpartisipasi dalam Indonesian-Based Wood Identification Program. Program ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi identifikasi kayu berbasis DNA, yang diharapkan dapat membantu penegakan hukum di sektor kehutanan.
Menurut Dr. Fifi Gus Dwiyanti, dosen silvikultur IPB Universitas dan salah satu peneliti dalam konsorsium ini, teknologi DNA memiliki peran penting dalam menekan angka perdagangan kayu ilegal di tingkat internasional. "Teknologi DNA telah menjadi standar global dalam forensik kehutanan, namun penerapannya di Indonesia masih terbatas," katanya.
Fifi menjelaskan bahwa teknologi identifikasi berbasis DNA dapat memberikan bukti ilmiah yang sangat akurat melalui tiga tingkat analisis. Pertama, identifikasi pada level famili, genus, atau spesies; kedua, penentuan asal-usul populasi kayu; dan ketiga, verifikasi kecocokan antara log kayu dengan tunggak asalnya di lapangan.
Dalam praktiknya, para peneliti menggunakan metode DNA barcoding untuk identifikasi spesies. Proses ini melibatkan ekstraksi DNA, polymerase chain reaction (PCR), hingga sequencing. Data yang diperoleh kemudian dicocokkan dengan basis data global seperti National Center for Biotechnology Information (NCBI) atau DNA Data Bank of Japan (DDBJ).
Namun, Fifi mengakui adanya tantangan besar dalam membangun basis data yang komprehensif untuk hutan Indonesia. "Peneliti harus mengembangkan database dari seluruh populasi alami setiap spesies kayu, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan spesies komersial," katanya.
Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada beberapa faktor kunci, mulai dari keragaman genetik, penggunaan penanda DNA yang diskriminatif, hingga kualitas ekstraksi DNA itu sendiri. IPB Universitas bersama konsorsium terus bekerja keras menyusun pilar ilmiah yang kuat untuk mengembangkan teknologi identifikasi kayu berbasis DNA.