Harga Emas Melompat, US$4.510,15 Per Ons - Investor Boleh Sengaja Mencari Senyum
Jumat (9/1/2026), harga emas dunia menutup di tingkat US$4.510,15 per ons, melebihi level awal pekan di US$4.448,19 dan jauh dari level awal tahun di US$4.329,89 pada 2 Januari. Pergerakan ini bisa dilihat sebagai reaksi terhadap data tenaga kerja Amerika Serikat yang mulai kehilangan momentum.
Nonfarm payrolls Desember hanya bertambah 50.000, lebih rendah dari ekspektasi 60.000. Posisi ini menggambarkan pasar kerja yang tidak lagi menciptakan banyak lapangan baru, namun belum memasuki fase pemutusan kerja besar-besaran.
Kondisi seperti ini mengubah arah kebijakan moneter. Dengan penciptaan kerja melemah, tekanan upah melandai, dan inflasi lebih mudah dikendalikan. Itu membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga The Fed.
Pasar kini sudah memperkirakan dua kali pemotongan sepanjang 2026. Setiap ekspektasi pelonggaran suku bunga menurunkan daya tarik dolar dan obligasi, lalu mengalihkan aliran dana ke emas.
Namun, pergerakan harga emas ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor moneter, tetapi juga risiko geopolitik. Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak yang terkait Venezuela, ketegangan dengan Iran belum mereda, dan konflik Rusia-Ukraina masih berjalan.
Arus fisik juga bergerak ke arah yang sama. Bank sentral China sudah membeli emas selama 14 bulan berturut-turut, mengurangi pasokan yang tersedia di pasar dan memperkuat harga pada level tinggi.
Lembaga seperti HSBC mulai membuka ruang proyeksi ke US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026. Untuk pekan ini, selama emas bertahan di atas US$4.500, pasar sedang memberi sinyal bahwa investor belum melihat alasan untuk keluar dari posisi lindung nilai. Data tenaga kerja AS yang mulai retak memberi bahan bakar utamanya.
Jumat (9/1/2026), harga emas dunia menutup di tingkat US$4.510,15 per ons, melebihi level awal pekan di US$4.448,19 dan jauh dari level awal tahun di US$4.329,89 pada 2 Januari. Pergerakan ini bisa dilihat sebagai reaksi terhadap data tenaga kerja Amerika Serikat yang mulai kehilangan momentum.
Nonfarm payrolls Desember hanya bertambah 50.000, lebih rendah dari ekspektasi 60.000. Posisi ini menggambarkan pasar kerja yang tidak lagi menciptakan banyak lapangan baru, namun belum memasuki fase pemutusan kerja besar-besaran.
Kondisi seperti ini mengubah arah kebijakan moneter. Dengan penciptaan kerja melemah, tekanan upah melandai, dan inflasi lebih mudah dikendalikan. Itu membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga The Fed.
Pasar kini sudah memperkirakan dua kali pemotongan sepanjang 2026. Setiap ekspektasi pelonggaran suku bunga menurunkan daya tarik dolar dan obligasi, lalu mengalihkan aliran dana ke emas.
Namun, pergerakan harga emas ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor moneter, tetapi juga risiko geopolitik. Amerika Serikat menyita kapal tanker minyak yang terkait Venezuela, ketegangan dengan Iran belum mereda, dan konflik Rusia-Ukraina masih berjalan.
Arus fisik juga bergerak ke arah yang sama. Bank sentral China sudah membeli emas selama 14 bulan berturut-turut, mengurangi pasokan yang tersedia di pasar dan memperkuat harga pada level tinggi.
Lembaga seperti HSBC mulai membuka ruang proyeksi ke US$5.000 per ons pada paruh pertama 2026. Untuk pekan ini, selama emas bertahan di atas US$4.500, pasar sedang memberi sinyal bahwa investor belum melihat alasan untuk keluar dari posisi lindung nilai. Data tenaga kerja AS yang mulai retak memberi bahan bakar utamanya.