Ledakan Matahari yang melanda awal Februari tahun ini, ternyata memiliki dampak yang cukup signifikan bagi Bumi. Pusat tata surya itu, yang dikenal sebagai Matahari, melepaskan empat ledakan dalam waktu singkat, sehingga mengancam keamanan satelit dan sistem komunikasi di Bumi.
Menurut sumber pengetahuan NASA, ledakan tersebut berpotensi menyebabkan peningkatan peristiwa partikel berenergi tinggi, yang dapat mencakup pelepasan massa koronal atau CME. CME itu sendiri dapat menyebabkan badai geomagnetik saat mengarah ke Bumi, sehingga munculnya aurora di wilayah kutub Bumi menjadi mungkin.
Selain itu, ledakan Matahari tersebut juga dapat mengganggu satelit, sinyal GPS, komunikasi radio, bahkan sistem power yang berada di darat. Empat ledakan ini terjadi sejak tanggal 1 Februari lalu dan berlangsung dalam waktu 20 jam saja.
Ledakan terkuat dari keempat ledakan tersebut adalah X8.1, yang melepaskan suara itu pada 23:37 UTC tanggal 2 Februari 2026 (6:37 WIB pada 3 Februari 2026). Menurut Pusat Prediksi Cuaca Angkasa Amerika Serikat (AS), NOAA, ledakan ini adalah yang terkuat yang pernah tercatat sejak Oktober 2024 lalu.
Keempat ledakan itu berasal dari lokasi bintik Matahari yang sama, yaitu RGN 4366. Lokasi itu menghadap Bumi secara langsung saat kejadian, sehingga membuat dampaknya lebih besar dan lebih cepat terasa oleh Bumi.
Menurut sumber pengetahuan NASA, ledakan tersebut berpotensi menyebabkan peningkatan peristiwa partikel berenergi tinggi, yang dapat mencakup pelepasan massa koronal atau CME. CME itu sendiri dapat menyebabkan badai geomagnetik saat mengarah ke Bumi, sehingga munculnya aurora di wilayah kutub Bumi menjadi mungkin.
Selain itu, ledakan Matahari tersebut juga dapat mengganggu satelit, sinyal GPS, komunikasi radio, bahkan sistem power yang berada di darat. Empat ledakan ini terjadi sejak tanggal 1 Februari lalu dan berlangsung dalam waktu 20 jam saja.
Ledakan terkuat dari keempat ledakan tersebut adalah X8.1, yang melepaskan suara itu pada 23:37 UTC tanggal 2 Februari 2026 (6:37 WIB pada 3 Februari 2026). Menurut Pusat Prediksi Cuaca Angkasa Amerika Serikat (AS), NOAA, ledakan ini adalah yang terkuat yang pernah tercatat sejak Oktober 2024 lalu.
Keempat ledakan itu berasal dari lokasi bintik Matahari yang sama, yaitu RGN 4366. Lokasi itu menghadap Bumi secara langsung saat kejadian, sehingga membuat dampaknya lebih besar dan lebih cepat terasa oleh Bumi.